Welcome !!

I am Nur Susilawati Writer

Hanya sedikit ingin berbagi, karena tidak semua orang bisa bangun pagi! Eh.
View Blog Dandelion

Our Blog

Merajut Harmoni, Memblok Intoleransi

 

Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Bagimu agamamu, bagiku kau saudaraku.


Sepertinya perihal intoleransi beragama masih akan terus berlangsung lama. Bukan karena pesimis, namun sikap kita acap kali keliru atas apa yang musti dilakukan jika hal demikian selalu terjadi. Gesekan-gesekan yang tidak pernah perlu, kadang kala menyulut kemarahan dan berujung pada tindakan yang membabi buta tanpa pernah disertai pertimbangan. Sebegitu susahkah hidup berdampingan jika kita berbeda keyakinan? 


Misalnya belakangan ini sumber “api”, Perancis tak hentinya menyulut kemarahan umat muslim sedunia. Setelah majalah Charlie Hebdo beberapa tahun silam dikecam karena telah nekat menerbitkan karikatur Nabi Muhammad SAW. kini giliran seorang guru sejarah dan geografi, Samuel Paty, tewas dipenggal oleh seorang remaja berusia 18 tahun, Abdullah Anzorov. Namun pada akhirnya pemuda tersebut juga tewas ditembak petugas kepolisian karena dianggap melawan ketika diamankan. Setelah kejadian ini, polisi bergerak cepat dengan menahan sembilan orang yang dianggap bertanggungjawab, empat diantaranya merupakan kerabat Anzorov dan salah satu dari lima orang yang tersisa adalah orang tua murid yang membeberkan identitas guru. 


Atas semua yang terjadi warga Perancis turun ke jalan dan mengecam tindakan anak muda tersebut dengan dalih kebebasan berekspresi di negaranya sendiri. Turut pula Emmanuel Macron, presidennya menyampaikan perasaan duka paling mendalam atas kepergian sang guru yang disebut penuh dengan dedikasi itu, pun ia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis saat ini di seluruh dunia. Bukannya berusaha mendinginkan situasi, ucapan tersebut layaknya menyiram api dengan bensin, sontak menuai kritik dan dianggap telah mengeneralisasi umat muslim. Maka muncullah tindakan pemboikotan terhadap produk Perancis dan pengecaman yang dilakukan oleh beberapa pemimpin negeri, termasuk Turki dan Indonesia. 


Berbicara tentang pemboikotan, tindakan tersebut mendapat respon yang berbeda-beda dikalangan masyarakat. Ada yang menyebut percuma ada juga yang terang-terangan mendukung karena menurutnya hal itu sudah tepat untuk dilakukan. Terbukti Danone sebuah perusahaan asal prancis harus menerima dengan lapang dada ketika harga sahamnya anjlok seketika. Namun, disamping pemboikotan, di sisi lain kita juga perlu vocal terhadap tindakan pemuda yang langsung menebas sang penyulut keributan. Ingat, menggambar Nabi salah, membunuh juga salah, dua hal yang salah tidak akan membuat salah satunya benar. 


Di sini kita lupa menggarisbawahi bahwa agama Islam yang telah kita yakini adalah agama yang penuh dengan aturan. Segala tindakan dengan hanya main hakim sendiri jelas tak pernah dibenarkan. Membela Nabi dengan menghilangkan nyawa orang lain jelas tak pernah dicontohkan dari Baginda yang katanya kita cintai, membela dengan menghilangkan nyawa orang lain tak pernah halal untuk dilakukan sama sekali.


Kita perlu mengingat kembali, bahwa semasa hidup Rasulullah SAW. cacian dan hinaan acap kali Beliau dapatkan dari para pembencinya.  Seperti kisah seorang Yahudi buta dan tua gemar sekali mencaci Baginda Rasul. Ia selalu menolak atas apa yang disampaikan oleh Rasulullah dengan cara yang paling kasar, mulai dari mengumpat, meludahi, dan menyebarkan ke seantero negeri untuk turut pula membenci Rasulullah. Namun apa yang Rasulullah balaskan, ialah balasan kebaikan. Ia dengan setia memberinya makan, menyuapinya dengan lembut, dan jika ada daging yang terlalu keras, ia suwir dagingnya agar Yahudi buta tak kesulitan memakannya. Sampai ketika pada suatu hari bukan Nabi yang menyuapinya, melainkan Abu Bakar yang kebetulan  lewat. Kemudian Yahudi buta tersebut merasakan perangai yang berbeda dan juga tangan yang tak biasa, lantas bertanya:

“Ini bukan tangan yang biasa menyuapiku. Kemana laki-laki yang biasa menyuapiku?”

“Ia sedang ada urusan, Tuan.”

“Siapa sesungguhnya laki-laki yang setiap hari memberiku makan itu?” 

“Ia Rasulullah, Muhammad SAW.”

Yahudi buta tersebut lantas menangis dan menyesali semua perbuatannya. Pada akhirnya, Ia memeluk Islam ditangan Sayyidina Abu Bakar melalui  petunjuk iman lewat akhlak Sang Rasul. Akhlak yang lebih dari perisai tetapi sudah menjadi pakaian indah sehari-hari. 


Kisah lainnya, saat Rasulullah melewati sebuah gunung lantas dilempari dengan batu oleh pembencinya, gunung tersebut langsung berkata “Ya Rasulullah berdo’alah agar saya bisa membalas atas tindakan mereka terhadapmu dengan melemparkan balik batu-batu yang ada diatasku ini.” Rasulullah kemudian menjawab, “jangan, sebab mereka akan terluka”. Lihat betapa sabarnya dan berlaku adilnya Rasulullah tidak hanya kepada mereka yang menyukainya tapi juga kepada mereka yang membencinya. Kita semua pasti menyadari bahwa mengingat akhlak Rasulullah adalah mengingat sesuatu yang terlampau tinggi dan barangkali terlalu jauh untuk kita gapai, namun bukan berarti kita serta-merta menampik konsep dari keteladanan itu sendiri.


Saya ingat, ketika teman saya yang beragama Kristen Katolik, seorang pemuda yang rajin sekali ke gerejanya juga aktif dengan kegiatan organisasi kerohanian, ditengah-tengah forum rapat pernah bertanya begini, “saya heran dalam agamamu Nu, bahwa surga terlalu sempit untuk dihuni bersama”. Pada saat itu saya tidak mengerti dan bertanya balik tanpa diikuti rasa amarah sedikit pun “Apa maksudmu Gar?” dia melanjutkan “iya, saya dengar surgamu pada akhirnya hanya diisi bagi mereka yang pandai berbahasa Arab saja.” Saya mulai mengerti maksud dari kekeliruannya, dan kemudian saya pun menjawabnya, dengan sependek pemahaman saya, 

“Sebenarnya Gar, masuk surganya seseorang tergantung hanya satu, ialah apa yang disebut dengan Ridho Allah SWT. Jika Tuhan kami menerima, seburuk-buruknya ia dimata orang lain, maka tidak ada halangan untuk itu, sebab Tuhan kamilah yang Maha Berkehendak. Hati seorang manusia, jelas yang bisa menilai hanyalah Pencipta hati itu sendiri.” 

Ia kemudian melanjutkan. 

“Saya dengar juga kalian memanggil kami dengan sebutan orang kafir, sebenarnya kami juga punya sebutan bagi kalian, yakni domba yang tersesat” 

“iya benar, sebutannya kafir, dan sebutan untuk domba itu tidak masalah bagi kami. Kami menghormati apa yang kalian yakini Gar.”

Dan sampai saat ini, Dia sudah menjadi teman saya berdiskusi baik masalah yang sedang terjadi dalam kehidupan kampus, maupun berdiskusi tentang kepercayaan kami masing-masing, tentang perbedaan katolik dan protestan, konsep tritunggal, Bunda Maryam, dan hari natal. Di sini saya mulai paham, bahwa saya butuh lebih banyak percakapan, butuh lebih banyak ruang diskusi tentang apa yang menjadikan kita satu sama lain dikatakan berbeda. Bukan hanya tentang Katolik, juga tentang  protestan, Hindu, Buddha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya. Karena diskusi tidak akan membuat kita terkontaminasi, tetapi akan semakin memperkaya dan memperkuat tentang apa yang kita yakini. 


Harmoni keberagaman nyatanya bisa saja dilahirkan lewat dialog-dialog yang ujungnya akan menumbuhkan sikap memahami dan menghormati. Dengan dialog maka tak bisa dipungkri, kita satu sama lain akan terus belajar mencari tahu tentang agama kita sendiri dan mulai mengerti tentang kepercayaan mereka. Tanpa dialog, siapa yang bisa menjamin bahwa di hari raya Nyepi, suara adzan masjid sejenak dilakukan dengan suara lirih, tanpa dialog siapa yang bisa menjamin tak ada kendaraan yang berlalu lalang saat kaum muslim tumpah ruah shalat ied di jalanan, tanpa dialog siapa yang bisa menjamin sekelompok remaja besedia menjaga pintu gereja saat temannya sedang beribadah natal, tanpa dialog siapa yang bisa menjamin seorang pemuda asrama minta dibangunkan sahur oleh temannya yang beragama Kristen. Dialog yang tanpa disertai sedikit pun sikap sinis, diskriminatif, merasa paling benar sendiri dan paling baik derajatnya, akan menumbuhkan sikap saling menghargai, saling memahami, dan mulai mengerti bahwa kebebasan berekspresi juga tetap harus diikuti dengan sikap tanggungjawab, yang tidak serta merta melecehkan simbol agama tertentu, tidak lagi mudah mencaci maki apa yang sejatinya sudah menjadi kepercayaan masing-masing dengan sepenuh hati.


Kita perlu merenungi apa yang pernah dikatakan oleh Bunda Teresa, seorang biarawati Katolik dan misionaris India, yang telah mendedikasikan hidupnya merawat kaum papa, di suatu hari saat sedang memandikan anak gelandangan di pinggir sungai Gangga, beliau bertanya,

"Mengapa dua orang yang bermusuhan harus berteriak satu sama lain padahal mereka berdekatan?" Ia pun menjawab dengan sendirinya "Sebab hati mereka berjauhan." 


Mungkin, mengapa intoleransi masih membumi sebab kita masih menutup kuping untuk mendengar satu sama lain, masih enggan membuka mulut untuk bersuara tentang perdamaian dalam keberagaman, masih egois memandang mereka adalah sesuatu yang salah dan kitalah yang paling benar, padahal mereka sedekat genteng rumah, sedekat meja tempat kerja, di gerbong kereta, maupun sekolah. Nyatanya, sesederhana bertanya kabar, sedikit demi sedikit kita sedang merajut harmoni beragama. Sebab apa lagi yang bisa dibanggakan dengan yang namanya beragama, jika kita tak kunjung bisa menghargai satu dengan yang lainnya.


Sumber Gambar: cendika.com


Make a Wish


"Sesederhana bersyukur dan melangitkan harapan"

Saya pribadi tidak terbiasa menyambut hari ulang tahun sebagaimana cara umumnya, meski saya tahu ulang tahun memang lekat dengan yang namanya lilin dan kue tart, membagikan screen shoot ucapan dari teman-teman ke media sosial, sampai kewajiban ngetraktir teman-teman. Saya rasa semua pribadi punya caranya tersendiri. Namun secara pasti setiap tanggal hari lahirku akan selalu kusambut dengan rasa bahagia, sebab saya telah dilahirkan dan diberi kesempatan hidup sampai sekarang. Caraku sederhana, bangun lebih awal dan kupanjatkan segala maaf, terima kasih dan harapan-harapan yang semoga saja dikabulkan, cepat atau lambat. 

Di setiap pertambahan angka umur, Aku hanya ingin semakin bersyukur. Menjadi tua dengan bijaksana, yang paham akan arti dewasa, walau konsep dewasa itu sendiri masih perlu kubaca perlahan sebab masih terbata-bata. Berusaha menjadi pribadi yang tahu apa yang menjadi prioritasnya, yang tahu kapan mengatakan iya dan kapan mengatakan tidak untuk segala hal yang meminta keputusanku. 

Aku hanya ingin menjadi pribadi yang paling lihai menghadirkan bahagia untuk dirinya sendiri tanpa meminta dihadirkan dari siapa pun juga, Aku ingin lebih paham mengukir peran yang selalu diikuti tanggungjawabku yang lebih mendalam, Aku ingin mengatasi segala masalah dengan usahaku sendiri dan Aku ingin menghilangkan segala kekalutan yang biasa datang menyapa dengan penuh keyakinan diikuti do'a-doa yang senantiasa kurapalkan. 

Dengan pertambahan angka umur dan berkurangnya usia sebagaimana konsep takdir hidup dan mati, aku hanya ingin selalu belajar mencintai seluruh bagian dari diriku, dengan diikuti kesadaran diri tentang bagaimana saya  memahami perasaan dan pikiranku untuk saya sendiri dan kepada orang lain. 

Teruntuk diriku, sehat dan bahagia selalu.







Hey Begadang, Plis Menjauhlah


Biasanya yang menyebalkan namun tetap disukai itu sudah pasti si doi, tapi kalau yang menyebalkan tapi tetap dilakukan ya pastilah begadang.

Beberapa kali saya mengutuki diri sendiri karena keseringan begadang, SubhanAllah. Entah itu saya punya alasannya atau tidak sama sekali. Mengerjakan tugas akhir misalnya, revisian dari dospem tak jarang saya kerjakan di malam hari sampai subuh, padahal di siang hari saya lowong sama sekali atau karena lelah saya sedikit curi-curi waktu untuk tidur siang, padahal saya sadar bahwa saya tipe-tipe orang yang jika sudah tidur siang, susah tidur malam, ya gimana dong. Alhasil, jam tidur berantakan. Dikala malam tubuh terasa segar sehat bugar, otak encer, mata berbinar, pagi sampai siang hari, kerjaannya tidur teros, maklum mata lima watt, tubuh tak kuat, siapa suruh coba. 

Mungkin beberapa dari kalian juga demikian (cari teman). Beberapa alasan yang mungkin sedikit masih bisa diterima kenapa harus begadang misalnya, mengerjakan tugas kuliah yang memang beranak pinak atau mengerjakan suatu project pekerjaan tertentu menjaga lilin agar tidak padam, atau fokus ikut webinar internasional di negara yang beda zona waktunya saya pikir sah-sah saja. Beberapa dari kita mungkin juga sangat mengagumi sistem kebut semalam yang disamping melatih ketangkasan diri, mencoba uji nyali, atau juga sudah menjadi jalan ninja bagi diri sendiri, ngeri sedaap. 

Tapi, beberapa kawan saya, suka begadang untuk hal-hal yang tidak berbenefit sama sekali. Misalnya main game mabarlah istilahnya, main domino atau kartu remi, atau hanya scroll sosial media dan per-yutup-an sampai subuh, hei halo. Untuk yang terakhir saya pikir di sinilah letak dosa dari kuota unlimited, gak dihabisin sayang, eh sudah sayang ditinggalkan, eh begadang. Saya tau semua itu adalah hal yang menyenangkan tapi kenapa ya kita bisa setega itu sama diri sendiri, padahal salah satu dosen andalan saya pernah bilang bahwa anggota tubuhmu juga punya hak atas dirimu.

Berdasarkan beberapa penelitian, banyak dampak buruk dari aktivitas begadang ini karena kurangnya jam tidur dan kita pasti sudah mengiyakan hal itu. Dampak dari tidur yang tidak berkualitas antara lain, menurunkan kinerja otak dimana kita akan menjadi pelupa, kulit kusam tak terkira, kurang stamina, meningkatkan risiko kanker hingga kematian. 

Jadi, bagaimana cara kita agar tak lagi suka berteman dengan yang namanya begadang, atau setidaknya bisalah atur jarak darinya. Dari media online santai, sedikit nakal banyak akal, Mojok, terdapat tulisan tentang cara untuk memperbaiki jam tidur adalah dengan memiliki tanggungjawab. Katanya dengan memiliki tanggungjawab, kita mau tak mau akan tidur lebih cepat, dan bawaannya selalu begitu. Dan ini sudah terbukti yang saya lihat pada diri orang terdekat saya.

Ada satu kawan yang semenjak kuliah jam berapa pun kamu chat pasti dibalas, apalagi dini hari, bayangkan. Bukan karena dia terbangun dari tidur, tapi karena belum tidur-tidur. Dia memang lekat dengan aktivitas begadang. Tak jarang untuk kuliah jam 7.30 membuatnya bar-bar tak karuan. Tapi sekarang semenjak dia magang di daerahnya, menuntutnya untuk bisa lebih mendisiplinkan diri karena jelas tanggungjawab yang membuat jam tidurnya jauh lebih baik dan tidurnya tentu saja lebih berkualitas, ungkapnya.

Juga seorang sepupu jurusan teknik mesin yang habis praktik di salah satu kapal pengangkut minyak di Manado, katanya saat itu jam tidurnya sangat baik dan teratur. Sebab setiap pagi harus selalu siap mengawasi kinerja mesin. Juga salah satu kawan semenjak pulang ke kampung, aktivitas sehari-harinya mengantar ibunya berbelanja ke pasar setiap pagi atau melayani pelanggan di warungnya, yang tentu saja bisa dilakukan karena malamnya tidak begadang.

See, tanggungjawab bisa mengubah dengan secepat kilat aktivitas buruk kita. Namun saya pikir begini, masa ia saya harus menunggu dulu punya tanggungjawab pekerjaan untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik. Saya sekarang punya misi melatih diri untuk menghindari segala hal yang menyita perhatian lebih di malam hari apalagi di jam-jam krusial. Aktivitas bermain hp misalnya, dengan mengganti baca buku atau menulis. Sebab jam tidur yang buruk, jelas bagi yang muslim bisa mengakibatkan shalat subuh kita lewat, duuh. 


Eits, tapi saya sarankan lebih baik Anda tidur 1×24 jam atau tidak bangun-bangun, daripada begadang atau bangun subuh hanya untuk mencelakai orang yang habis shalat subuh. Eh gimana? Sory ces salah server.


#PerangiBegadang

Sumber gambar: freepik.com







Seperti Apa Kamu Ingin Dikenang?


"Kita tidak akan dikenang, kalau kita tidak pernah diingat"

Acap kali maut tak memandang usia setiap kali ia ingin menyapa. Datang tiba-tiba, siap tidak siap, kalau telah sampai dibatas paling akhir kehidupan sudah waktunya kita pergi. Seperti dalam ingatan, mungkin satu, dua orang terdekat, atau kawan yang sempat dikenal, masih muda dan sehat, malah memberikan kabar duka diberita terakhirnya. Kita tak lagi sempat mengulang cerita bersama atau sesederhana bertanya perihal kabarnya, namun harus ikhlas merelakan bahwa sosoknya tak lagi bisa kita jumpai. Kita akan tersadar bahwa yang masih awam tentang kehidupan belum tentu akan pergi belakangan.

Ketika sosok "kita" tak lagi bisa dijumpai dalam  keseharian orang-orang terdekat, percayalah memori yang paling berkesanlah yang akan selalu mereka ingat. Kita semua pasti meyakini bahwa setiap manusia memiliki impiannya masing-masing tentang bagaimana cara mereka akan dikenang, dan semuanya pastilah menginginkan dengan cara dan dengan hal yang baik-baik saja.

Ternyata mengenang seseorang tidak hanya berlaku bagi ia yang dikenal saja, tetapi juga bagi mereka yang tidak kita kenal sebelumnya, nama orangnya, tidak tahu pribadinya, hanya karena kita pertama kali bertemu dan mungkin juga untuk yang terakhir kalinya, kesan yang mereka berikan begitu dalam terekam dalam pikiran. Mereka akan selalu diingat karena perkataannya atau tindakannya yang kesemuanya tentu adalah sebuah kebaikan. 

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, beberapa kali saya bertemu dengan orang yang hangat pembawaannya, tutur katanya menenangkan, tatapannya meneduhkan. Seperti saat itu di bandara misalnya, perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar, kebetulan pesawat kami saat itu yang seharusnya take off jam 8 malam lebih, namun  delay, dan terpaksa harus berangkat jam 2 dini hari, padahal sebelumnya saya dan dua orang teman sudah deg-degan akan ketinggalan pesawat sebab start dari hotel ke bandara itu sekitar jam 7 lebih hampir jam 8, sungguh pikiran kami yang sudah carut marut dan perasaan kami yang sudah kalut sekali. Pada saat di gate, sehabis mengaji saat itu, seorang nenek yang duduk di samping saya sedari tadi bersama seorang kakek itu tegur sapa duluan, bertanya mau kemana, ya saya jawab ke Makassar, dan ternyata tujuan kami sama. Kami mulai bercakap, beliau bertanya kembali untuk apa di Jogja, semester berapa,orang mana, tinggal dimana di Makassar, dan lain sebaginya. Dan lumrahnya sebuah percakapan yang hendak diteruskan, saya juga harus nanya balik, ternyata nenek ini dan suaminya orang Bulukumba (wah bukan kebetulan sekali) mereka pulang dari Palembang setelah menghadiri acara pernikahan keluarganya dan saat itu transit di Jogja. Hingga pada akhirnya, nenek itu bercerita dalam dialek bugis yang saya artikan begini " menyekolahkan anak memang bukan pekerjaan yang mudah,dan tidak bisa dibilang gampang, tapi InsyaAllah kalau orang tua ikhlas akan berbuah yang baik juga. Anak saya dua-duanya dokter Alhamdulillah sekarang sudah bekerja di Rs. Wahidin, satu alumni Unhas satu dari UMI. Tidak terhitung berapa kali kita (kakek nenek) menjual sawah dan barang-barang rumah waktu mereka kuliah. Tapi Alhamdulillah Allah akan selalu bantu kita. Anak saya sudah berangkatkan saya haji, sudah beri saya dan bapak makan. Dan sekarang sudah tidak ada lagi yang saya pikirkan selain mendoakan mereka.  Begitu juga pasti kamu. InsyaAllah".  Percakapan kami terus mengalir dengan tentu saja pelajaran berharga dan banyak pesan kehidupan sudah saya dapatkan darinya, semoga beliau selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam hidupnya. Aamiin.

Tidak hanya itu, di lain kondisi setelah saya bimbingan proposal tidak lama ini, saya hendak pulang dari rumah dospem yang letak rumahnya luar biasa jauhnya dari kampus. Saya hendak pesan ojol sambil berjalan keluar dari blok rumahnya, belum sempat memesan, eh ada angkot lewat wah rejeki anak sholeha. Saya bertanya donk "ini berhenti dimana Pak?" Malah bapaknya nanya balik "kamu mau kemana?" Ya saya jawab unhas. Beliau langsung  saja suruh naik, waduh. Penumpang yang sudah ada di dalam angkot itu semuanya adalah karyawan salah satu mall di daerah situ mungkin sudah di carter kali ya, karena yang saya tahu area situ memang tidak dilewati pete-pete (angkot khas Makassar). Setelah penumpang itu turun tinggal saya sendirian (untung siang hari kalau malam hari mungkin ayat kursi tak putus-putus saya baca dalam hati). Kemudian Bapaknya bertanya "dari mana tadi?" , ya saya jawab, "habis bimbingan sama dosen pak" . "Ooo sudah semester akhir ya, anak saya juga sudah skripsi dan lagi bimbingan-bimbingan begitu, tapi dosenmu jauh sekali, unhas ke sini, tidak lama lagi itu selesai". Wah apa yang bapak itu katakan secepat kilat saya Aamiinkan. Sampai pada titik pemberhentian, saya bilang terima kasih. Selanjutnya saya menunggu angkot dengan kode Unhas eeh tau tau bapaknya turun, ternyata hanya mau memberhentikan angkotnya (saya bilang dalam hati, ya Allah pak, saya tau cara ambil pete-pete :> ). Setelah naik ke pete-pete saya bilang terima kasih banyak sekali lagi, dan berdoa dalam hati semoga Bapak tadi mendapatkan rejeki yang berkah dan urusan anaknya juga dimudahkan. Aamiin.

Itu hanya dua sosok dengan kesan kebaikan yang bagi saya tidak bisa saya lupakan. Masih banyak pastinya kebaikan orang-orang yang tidak pernah saya kenal namun sangat berbekas, bapak ojol yang rela carikan ATM, pengendara di jalanan yang ingatkan untuk hati-hati dengan rok yang saya pakai, seorang jamaah langsung menghamparkan sajadahnya ketika  melihat  saya shalat  tanpa sajadah, dipersilahkan untuk check in lebih duluan karena waktunya mepet padahal antrinya paling belakangan, dan kebaikan lainnya. Ada satu yang pasti tentang semua itu, bahwa kesan yang baik akan selalu diikuti feedback perkataan yang baik. 

Setiap kebaikan yang mereka berikan tentu saja sangat mempermudah urusan kita, sangat  mempengaruhi perasaan kita, dan tidak ada balasan kebaikan kepada mereka kecuali kebaikan pula. Dan cara yang paling terbaik untuk mengenang seseorang adalah dengan Do'a yang dipanjatkan untuk mereka. Disini saya mulai paham, bahwa seburuk-buruknya seorang manusia, masih ada hal baik dalam dirinya, dan semudah-mudahnya kita dikenang dan sesusah-susahnya kita dilupakan adalah kebaikan yang sudah kita ciptakan. 

Lanjut, saya pikir begini, orang yang tidak kita kenal saja masih bisa dengan mudah kita ingat apalagi untuk kehadiran kita ditengah orang-orang yang memang tau dan paham tentang diri kita. Ternyata semua hanya perkara bagaimana kita memberikan kesan yang baik walaupun sederhana, hingga pada saat  mata tertutup untuk terakhir kalinya, kita punya bekal bagaimana cara kita dikenang.

Semoga dari tulisan ini kita bisa mengambil pelajaran ya teman-teman. Oia, kode pete-pete dari dan ke Unhas itu 02, 05, dan 07 Hehe.

See you