Welcome !!

I am Nur Susilawati Writer

Hanya sedikit ingin berbagi, karena tidak semua orang bisa bangun pagi! Eh.
View Blog Dandelion

Our Blog

Memang Kenapa kalau Berbeda?



"Semoga kita selalu berada di jalan yang benar"

Seperti apa rasanya jika kehadiran kita sama sekali tidak diharapkan oleh orang lain? Menyakitkan. Dianggap tidak penting, dilihat sebelah mata dan stigma pembuat onar yang dilihat oleh masyarakat. Kita mungkin belum pernah merasakan itu semua, berada pada posisi mereka yang sampai hari ini masih diberi lebel "colored" di tengah kita.  

Sepanjang sejarah membuktikan bahwa, kehidupan bagi mereka yang punya warna kulit hitam sungguh sulit. Kita jangan lupa akan perjuangan Nelson Mandela kala rela berada di balik jeruji besi 27 tahun lamanya sebab menentang aturan Apharteid di Afrika Selatan. Di tanah mereka sendiri, mereka tidak mendapatkan keadilan, mereka tidak diberi ruang kebebasan untuk melakukan sesuatu atas kehendak sendiri, mengembangkan diri, dan bersuara atas apapun yang perlu diperdengarkan. Padahal, mereka adalah kelompok mayoritas yang punya hak diatas rumah mereka sendiri.

Mari kita lihat seperti apa langkah perjuangan mereka yang berkulit hitam untuk menampilkan kemampuannya di atas semua stigma buruk yang mengelilingi mereka. Salah satu contohnya, bisa kita lihat dalam film yang disutradarai oleh Theodore Melfi.

"Hidden Figures" sebuah film yang diadaptasi dari kisah nyata, yang sangat menginspirasi, mengangkat kisah perjuangan tiga wanita kulit hitam sebagai minoritas yang bekerja di Lembaga Luar Angkasa Amerika (NASA). Perjuangan untuk menentang batasan dan perjuangan untuk segera diakui dan disejajarkan. Film ini membuktikan bahwa sebaik apapun kemampuan mereka  yang berkulit hitam miliki, yang telah dianugerahi  kecerdasan, kedisiplinan, ambisius, dan berdedikasi tinggi tetap tidak mudah bagi mereka untuk maju satu langkah membuktikan itu semua. Sebab, warna kulit hitam yang telah melekat dalam tampilan mereka berarti sebuah pagar tinggi yang harus mereka lompati  untuk bisa bebas berkarya dan bekerja. Mary Jackson, harus berjuang menembus batas aturan perguruan tinggi untuk bisa sama-sama duduk dengan mereka kulit putih demi meraih gelar teknisi yang didambakannya. Dhorothy Vaughan harus berusaha lebih besar agar dirinya bisa diangkat secara permanen untuk menjadi supervisor yang secara aturan tidak pernah ada kulit hitam yang menempati posisi tersebut. Lain halnya Khaterine, tokoh sentral dalam film berhasil masuk dalam bagian perhitungan lintasan astronot sebab ahli matematika, bukan berarti segalanya mudah baginya. Bayangkan untuk hanya sekadar ingin buang air saja ia harus menempuh jarak setengah mil dari kantornya sambil membawa semua berkas yang harus diperiksa dan dihitung segera, sebab hanya ada satu toilet perempuan yang berkulit hitam disana, dan ia tidak boleh menggunakan toilet yang lainnya. Tidak hanya itu, rekan sekantornya juga tidak sudi berbagi termos kopi dengannya, dan itu berarti harus ada dua termos di meja yang sama, satu untuk kulit putih dan satu untuk Khaterine dengan cap "colored". Tapi itu semua tidak memadamkan api semangatnya untuk terus membuktikan bahwa kemampuan tidak ada hubungannya dengan warna kulit. Dan ini hanya satu kisah dari banyaknya kisah mereka yang berjuang untuk kesetaraan.

Sampai kapan dunia ini dihadirkan sebagai tempat yang sama sekali tidak nyaman untuk mereka tinggali?. Sampai kapan pula garis finish selalu dipindahkan ketika mereka ingin menunjukkan kemampuannya?. Hitam atau putih itu hanya masalah warna. Sangat menyedihkan jika hal itu sebagai dasar kita membenci mereka. Saya ingat saat duduk di bangku kelas dua SMP, saya pernah membawakan puisi yang ditulis oleh seorang anak Afrika yang berjudul "Colored". Isi puisinya kurang lebih seperti ini " Ketika saya lahir saya hitam, saat saya tumbuh saya hitam, saat saya dingin saya hitam, saat saya di bawah matahari saya hitam, dan saat saya mati saya hitam. Dan kamu yang berkulit putih, saat kamu lahir kamu pink, saat kamu tumbuh kamu putih, saat kamu dibawah matahari kalian merah, saat kamu dingin kamu biru, saat kamu mati kamu abu-abu. Dan kamu memanggil saya dengan sebutan "si berwarna"?". So deep. Ternyata masalah warna kulit adalah masalah kompleks yang dihadapi oleh dunia ditengah hingar bingarnya kemajuan. Pemikiran yang nyatanya tetap mengalami kemunduran, tetap terbelakang soal kemanusiaan.

Padahal sudah barang tentu kita tidak akan pernah bisa memesan untuk lahir ke dunia dari rahim seperti apa dari orang tua seperti apa. Maka dari itu, adalah mutlak bahwa kehadiran seorang manusia adalah kuasa pencipta.  Kita semua juga tidak akan pernah mau menjadi bagian dari kelompok yang selalu mendapatkan penindasan. Maka dari itu atas nama rasisme dalam bentuk apapun  haruslah dihapuskan dari suara mulut dan segala  tindakan tangan-tangan kita bahkan sejak dalam pikiran. Mari untuk selalu berusaha saling memberi dukungan bagi sesama, dan menebar kasih atas nama makhluk Tuhan. Mari memperlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan. Bukan, di sini jelas bukan saya yang paling benar pun bukan saya yang paling baik. Saya, kamu dan kita semua memang masih perlu belajar perihal bagaimana menilai dan menghargai orang lain.  Bukankah kita semua adalah manusia dan status itu tidak akan pernah berubah hanya karna warna kulit yang berbeda. 

#StopRacism
#BlackLivesMatter

Apapun yang Terjadi Tidak Apa



Assalamualaikum gaess..

Hufft, btw sudah lama ya gak nulis. Udah banyak yang dm ke gua, boom chat, ngirimin email juga nanyain kapan lagi nge-post, katanya nih yaa, kangen nungguin bacaan yang bisa menemani gitu di masa-masa stay at home, seneng banget donk gua bacanya, bisa berguna bagi orang lain tuh rasanya kayak gimana yaa, bukan lagi kayak ada maniest-maniestnya, tapi memang maniest tok. ( Ini contoh pembuka tulisan ala penulis terkenal hehe)

Kalo di pikir-pikir serem juga ya blog yang gak pernah dikunjungi, merasa ada lain-lain gituu, entah halus apa kasar dah. Takutnya juga nantinya ditumbuhi sarang laba-laba karna gak pernah dibersihin. Tapi tenang gaes berkat dewa tapi bukan 19 Alhamdulillah tampilan blog gua berasa udah pro nih. Thankyuuu yaa, programmer gitu sih.

Oia, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H untuk pembaca budiman, teman-teman sekalian, Taqabballahu Minna Wa Minkum, mohon maaf lahir dan bathin. Maafkan Nunu yang banyak salah ini yaa. Sengaja nggk ngepost pas hari H lebaran karna kata orang-orang "terlalu banyak maaf hari ini" iya sih, tapi kaan.. ya wes lah.

Pasti nih ya, grup Wasap kalian pada rame kirim-kirim stiker lebaran lah, ucapin kata maaf lah, satu persatu keluarga jauh juga video call, temen yang minta salaman online lah dan lain sebagainya. Ada satu yang sempat saya dibuat haru (ceile), pas saat teman non muslim menyampaikan selamat hari raya, selamat berlebaran, aduhh rasanya seneng banget. Beda sama saya yang masih mikir dua kali buat ngucapin demikian pas juga hari raya mereka ( duh musti pendalaman ini).

Perihal lebaran ini, dimasa sekarang memang tak pernah terpikirkan, semuanya hampir tidak pasti. Masih beruntung kita yang bisa berkumpul dengan keluarga, bagaimana dengan mereka yang harus menahan rindu berkali-kali karna pandemi, gak bisa pulang ke rumah, di kos sendirian tidak ada yang menemani, tidak bisa saya bayangkan, ada? Banyak kan. 

Kawan, apa yang mesti kita petik dari ramadhan yang telah berlalu, hari kemenangan yang sudah kita lewati, menurut ku cuma satu, yakni yakin, haqqul Yakin. Di tengah kondisi yang semuanya hampir tidak pasti, yakinlah bahwa semuanya akan kembali seperti sedia kala. Bukankah pencipta kita adalah Allah yang maha pengasih lagi Maha Penyayang, yang tak henti-hentinya mengingatkan kita dengan Firman-nya bahwa "Aku seperti Persangkaan Hamba Terhadap Ku". 

Semoga kita semua kembali Fitri, saling menguatkan satu sama lain, perbanyak tolong menolong, saling memaafkan, keimanan kita semakin dipertebal dan ibadah-ibadah kita semakin digiatkan. Aamiin.

Mau nanya, legese'nya masih ada? Hehe

Presiden juga Manusia



Tidak akan pernah menyenangkan kala ditinggalkan. Begitulah kiranya kata "pergi" tidak pernah disukai setiap kali diucapkan. Baik keluarga tercinta atau kekasih hati, yang mengucapkan kata pamit pasti teriris, yang mendengarkan pasti lebih menyayat hati. Pergi sementara atau selamanya, tanpa atau dengan kata permisi, keduanya sama-sama menghadirkan duka. 

Begitulah kiranya yang dirasakan oleh orang nomor satu negeri, ketika harus kehilangan ibunda tercinta kala negeri juga sedang bersedih. Setangguh dan sedewasa apapun beliau, setinggi apapun jabatannya itu, kita percaya bahwa semua orang berhak untuk bersedih kala kehilangan, pun juga berlaku bagi bapak presiden. Di tengah tumpukan tugas yang tidak ringan, di samping banyak tuntutan orang-orang, hati beliau dipaksa ikhlas kala ibunda harus pergi untuk selamanya. Layaknya manusia biasa, presiden juga punya hak untuk menangis,  tapi beliau begitu pandai menyembunyikan perasaannya walau kamera pewarta selalu berhasil membidik raut kesedihannya. 

Setelah pemakaman ibunya yang jauh dari agenda ke-protokoler-an, para menterinya juga  diminta untuk tidak hadir, pun tetangga rumah dianjurkan untuk tidak lama-lama,  presiden harus bersedia memimpin rapat KTT G20 secara daring dengan agenda pembahasan menyelamatkan ekonomi dan berperang bersama melawan pandemik. Membayangkan persiapannya dimana seorang presiden dituntut untuk paham konteks narasinya, berkoordinasi dengan para menterinya, rasanya betul bisa dikatakan bahwa tidak ada waktu berduka bagi bapak negara. Kepentingan negara dan kebaikan bangsa selalu saja diminta untuk dinomor satukan. Setelahnya, presiden kembali bertolak ke kediaman keluarga untuk melaksanakan takziah. Yang dilakukan beliau mungkin karena selalu ingat pesan Almarhumah "saya cuma mengingatkan saja. Kamu bukan hanya milik keluarga, sekarang sudah milik bangsa Indonesia" kala beliau pertama kali menjabat sebagai presiden RI. 

Beberapa pihak yang menyalahkan beliau lambat menangani penyebaran covid-19, dan berkoar-koar agar lockdown segera dilakukan mungkin paham bahwa nyawa lebih berharga ketimbang ekonomi yang sejahtera. Namun sadarkah mereka bahwa perkara ekonomi tidak pernah mudah dijalani. Begitu banyak pertimbangan, agar akhirnya perekonomian tidak pernah diakhiri dengan kata lumpuh. Memang benar, kita tidak bisa menghidupkan kembali orang mati, tapi perekonomian yang chaos juga bisa menelan yang namanya korban jiwa. Tidak semua negara cocok dengan aturan lockdown. Social distancing dan nantinya jika sudah ditetapkan, istilah  Pembatasan Sosial Berskala Besar sudah cukup  untuk kita taati sampai hari ini. 

Rasanya, kita semua bisa bermimpi untuk  menjadi seorang pemimpin dengan kekuasaan ditangan. Mampu memimpin orang banyak, mengendalikan apa-apa, dan berkuasa atas apapun. Namun, dengan berkaca pada beliau, kekuasaan yang paling penting adalah mampu menguasai diri sendiri untuk tidak larut dalam kesedihan, dan tidak keluar batas untuk setiap pencapaian.

Perihal sosok ibu pasti kita sepakat, sakit sedikit rasanya waktu terasa berhenti, rumah sejenak hitam putih. Apalagi ditinggalkan sosok beliau, siapa pun berhak untuk runtuh walau sementara. Peran ibu selalu tak pernah bisa tergantikan. Beliau yang selalu berhasil mencetak seseorang menjadi "orang". Dan katanya, sosok seorang ibu adalah sosok perempuan pertama yang membuat anak laki-lakinya jatuh cinta, dan sosok panutan bagi anak perempuannya. Mari kita berusaha mengerti, perasaan orang-orang yang telah ditinggalkan.


Tulisan ini jauh dari unsur politis. Saya menulis setelah membaca di lini masa sebuah berita dengan judul, " Di tengah wabah pandemik, presiden Thailand memilih untuk mengisolasi diri". Benar atau tidaknya, dengan ini kita masih bisa bersyukur, di tengah wabah pandemik dan kabar duka ibunda, presiden Indonesia masih kokoh dalam tugasnya. Kita masih punya presiden yang melaksanakan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh. 

Jika beliau tidak punya waktu untuk sejenak berduka, maka kita punya banyak waktu untuk selalu mendoakan, kesehatan dan langkah kaki beliau agar yang selalu dimudahkan. Aamiin

Sumber gambar: @sahabatjokowii





SEJENAK BERJARAK



Halo apa kabar? 
Semoga keadaanmu baik-baik saja.


"Atas semua yang terjadi, kita mungkin lupa berdoa agar bumi tetap baik-baik saja. Dan atas semuanya, saya tersadar, bahwa pesan cinta tidak selalu didahului dengan hal-hal yang indah".

Hari ini kita semua sedang berperang dengan makhluk kecil tak kasat mata yang hobi sekali numpang hidup dalam diri manusia. Setidaknya, sudah lebih 10.000 jiwa pamit pergi akibat tingkahnya. Makhluk mikro yang menghantui kita dengan dampaknya yang luar biasa makro. Rasanya kita belum juga menikmati tahun baru dengan angka yang cantik ini. Masih juga terngiang jelas ditelinga perihal gema " Wuhan Jiayou.." dari dinding-dinding apartemen yang menjulang tingginya.  Wuhan sendiri adalah Kota dimana pertama kali makhluk itu menampakkan keberadaan dirinya. Entah darimana sumbernya, yang jelas ia ada dan siap menyapa siapa saja. Dan pada akhirnya ia singgah di negeri ini.

Tidak ada pilihan dan kita hanya bisa menerima.  Setidaknya hari ini kita diberi jarak untuk sejenak bertepi. Menghadirkan spasi bagi diri-diri yang telah lama bergelud dengan rutinitas sehari-hari, bekerja di kantor, berangkat sekolah, atau sekadar nongkrong dengan teman sejawat bercerita tentang masa depan yang dibumbui guyonan sampai tengah malam, duduk di sudut cafe dengan dimanja kecepatan wifi, nimbrung dikeramaian mall-mall kota, bersuka ria di tempat wisata, atau sekadar mencari makan dipinggir jalan. Kita diminta untuk libur dari aktivitas yang sering kali kita lakukan di luar rumah. Bagi sebagian daerah pun, rumah ibadah sementara tidak difungsikan, kita dianjurkan berinteraksi dengan Tuhan di rumah saja. Tidak hanya itu, orang-orang tak lupa memakai masker kala di luar rumah, kebersihan diri tak luput dari perhatian, masuk ATM saja beberapa orang menyemprotkan disinfektan terlebih dahulu sebelum menekan tombolnya. Semuanya asing, semuanya tidak biasa, suasana yang tidak pernah kita prediksi sebelumnya.

Namun, ditengah seruan untuk tetap menjaga jarak, untuk tetap di rumah saja, untuk memutus rantai penyebaran, tentu  saja himbauan ini tidak berlaku bagi mereka yang harus berjubel dengan pekerjaan hariannya. Mereka yang diminta bekerja dari rumah, menjaga jarak dengan orang-orang, sama saja memberi libur bagi perut untuk makan. Tukang ojek yang harus keluar mencari orderan, pemilik warteg yang harus melayani pelanggan dan menggaji pekerjanya, pedagang yang harus menyediakan bahan pokok untuk pembeli rumah tangga, sopir angkutan umum mencari penumpang, petugas kebersihan yang setia dengan pekerjaannya, buruh bangunan dan penambang pasir yang tidak pernah lelah mengais rezekinya. Dan juga mereka yang penuh dedikasi akan jasanya bagi masyarakat banyak, aparat kepolisian disamping tugas pokoknya, hari ini ditambah untuk mampu membubarkan keramaian masyarakat yang tidak punya telinga, adu mulut kadang tak bisa dihindari, padahal semua hanya untuk kebaikan bersama. Belum lagi bagi mereka tenaga kesehatan yang berada digaris terdepan merawat pasien, mereka yang mengambil libur sehari dalam keadaan sekarang mustahil adanya. Alat pelindung diri harus mereka pakai berjam-jam lamanya, tidak lagi menghiraukan kala perut keroncongan atau badan menagih untuk diistirahatkan. Masih baik jika APD sesuai standar, bagaimana dengan beberapa yang tampak terlihat hanya menggunakan stelan jas hujan. Mereka berperang dengan makhluk yang senantiasa menjadikan dirinya tempat bernaung berikutnya. Tak ayal, beberapa dari mereka terjangkit, dan akhirnya gugur dalam tugasnya. Mereka jelas punya keluarga di rumah dan mereka memilih memberi jarak dengan orang tercinta. Semua karena jarak yang mungkin bisa menyelamatkan banyak raga. Rindu tentu saja sudah tertuang dengan sangat hebatnya. 

Kita semua disadarkan. Sehebat apapun kita menjalani kehidupan tetap bisa berhenti sejenak dan memukul mundur semua rencana dengan tiba-tiba dan tak terduga. Jarak tentu saja mengambil peran untuk menghadirkan kekosongan. Beberapa orang Masih beruntung bisa pulang lebih awal dari jadwalnya untuk berkumpul bersama keluarga di rumah. Bagaimana dengan kawan seperjuangan kala memilih menetap karena merantau dengan jarak jauhnya. 

Saya tahu kita semua sudah bosan untuk tinggal di rumah saja dan melakukan hal-hal yang berulang adanya. Yang setia menemani hanya gawai yang selalu dalam genggaman dan tidak pernah ditanggalkan. Yang memperburuk keadaan juga karena kita tak tahu kapan semua ini akan berakhir. Kita telah diuji dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Tapi kita akan mendengar kabar gembira jika selalu diliputi dengan kesabaran. Sadarkah, bahwa kita semua akan pergi kawan. Dan sebaik-baik pengingat adalah kematian.


Dan nantinya, saat makhluk ini bersedia undur diri, setelah jarak minta permisi, kita berhak memandang wajah orang-orang terkasih dan mengucapkan terima kasih atas diri yang memilih untuk sejenak berjarak, untuk tetap baik-baik saja. Mengucapkan rasa bangga yang tak terhingga bagi mereka yang setia berada di garda terdepan. Setidaknya kita punya tugas untuk menceritakan tentang hari ini. Tentang diri kita yang tak bisa berbuat banyak dengan apa yang terjadi.

Kalau begitu, sudah baca pesan cinta dari-Nya?



Sumber gambar: @anggerruppai_