-->

Welcome !!

I am Nur Susilawati Writer

Thank You for Visiting! Aku tidak tau apa yang membawamu kemari dan Aku tidak tau caranya biar mood Kamu balik lagi, tapi silahkan dibaca pakai hati, semoga saja ada sedikit manfaat yang bisa diambil. Salam
View Blog Dandelion

Our Blog

Kontemplasi di Malam Hari

Pikiran di malam hari menuju pagi memang liar sekali. Di mana secara tiba-tiba aku ingin menyalahkan seseorang tapi tidak tahu dia siapa, atau aku ingin mengutuki diri sendiri tapi takut nanti berubah jadi apa, untuk sesuatu yang tidak sama sekali aku mengerti. Tapi aku tidak ingin bangun di pagi hari dan melihat langit kemudian membayangkan bisa terbang dan bersumpah serapah di sana. Seram bukan?.


Tapi aku ingin berharap Tuhan, tolong hadirkan pagi nanti yang cerah di mana cahaya itu tidak lelah untuk bersinar. Tiada mendung yang menghalanginya datang, atau angin ribut yang bukan lagi bisik-bisik. Maka kubangunkan rasa penuh syukur, hari yang lapang dan jiwa yang tenang. Tapi aku paham ini November, waktu di mana langit bertugas menangisi segala kepergian atau pun juga tangisan yang menolak meninggalkan. Sedikit bisa ku terima memang, akan hujan deras di pagi hari dengan segelas Milo sembari keluar hanya untuk membasahi kaki dan bermain hujan di telapak tangan tapi tetap berlindung di badan payung.


Aku tidak pernah mengeluh tentang waktu, tapi kali ini aku tidak sabar meminta waktu untuk cepat berlalu, melewati satu lagi bulan baru, perayaan hari ibu, kelahiran Yesus, akhirnya tahun baru. Entah ada apa nanti di tahun itu, meski aku telah berhenti membuat resolusi karena rasanya seperti omong kosong belaka atau takut juga tertampar realita, tapi aku harap ada harapan baru yang membuatku semangat kembali. Meskipun aku tidak terlalu menyukai segala perayaan kecuali makan-makan, aku ingin cepat menutup kalender yang terbuka ini yang kelewat batas memberi pelajaran. 


Tuhan, meski sadar aku jarang berdoa, tapi aku ingin cerita. Belakangan aku merasa otakku tidak berfungsi, mungkin ada satu dua sistem yang korslet di dalamnya. Aku tidak mengerti memecahkan persoalan walau sesederhana apapun itu. Di mana aku tetap berdiri berharap kembalian padahal jumlah yang kubawa pas-pasan, aku tidak mengerti bagaimana bisa penonton stand-up comedy tertawa terbahak-bahak dengan guyonan yang sama sekali tidak aku paham, kenapa aku malah menangis melihat kekonyolan Boboho menjahili gurunya sendiri, atau kenapa bisa aku beberapa kali meniup gelas yang isinya hanya air putih, bagaimana mungkin lagu rock yang baru kedengar dan tak kupahami artinya membuatku murung seketika, dan kenapa bisa emosiku berdatangan hanya karena pemberitaan yang kubaca penuh tentang kehidupan para artis dan informasi yang tak bermutu yang harus kucerna, padahal itu semua bukan barang baru. Oke, pikiran ku berantakan. Aku ingin berhenti bersikap tolol. Ku mohon kembalikan struktur otak ini ke setelan pabrik.


Namun, dari semua yang aku hadapi, aku tidak bermohon untuk dapat dilahirkan kembali, aku hanya ingin minimal punya cara memperbaiki diri. Aku tidak ingin mengecewakan kembali orang yang menaruh harapan terhadap ku, meski ku akui diberi kepercayaan ada kalanya harus ekstra hati-hati. Beberapa hal yang tidak akan berubah adalah statusku sebagai navigator terburuk yang pernah ada, aku akan tetap tidak menyukai hal-hal yang berbau anime dan segala peranakannya di mana pun ia dilahirkan, aku akan selalu meminum yakult dan berucap "aaaarghh" layaknya orang yang meminum soda ditegukan pertamanya, dan mendengar suara hujan atau siaran langsung NASA hanya untuk membuatku tidur secepatnya dan kalau beruntung tentu saja aku bisa melihat alien dari sana.


Namun, apa yang harus ku ubah, jika memang ini adalah aku. Aku ingin mendapatkan rasa nyaman sebab aku menjadi diriku sendiri, tidak harus terbebani oleh ekspektasi orang lain. Bukankah itu jauh lebih penting daripada aku hidup sebagai pecundang?, yang menghidupkan segala harapan namun tidak berniat memberi lentera?.


Tapi apa lagi arti hidup jika aku tetap sama seperti di awal. Dan mungkin kata "cukup", tidak pernah cukup untuk dijabarkan. Terkadang, aku sering menciptakan hutan hanya untuk menyembunyikan satu pohon. Agar orang-orang yang aku temui tidak melemparkan pertanyaan "kamu kenapa?", yang berakhir satu persatu quotes orang hebat menghujani kotak masuk pesanku. Sialan.


Jikalau memang kehidupan itu dijalankan seperti menyusun kepingan puzzle, aku harap tidak ada satu keping pun yang hilang. Bukan masalah untuk mencarinya, tapi aku bingung apa yang harus aku temukan. 


Sebelum ini semua terlalu panjang untuk ku urai, lihatlah malam sudah kembali melanjutkan tugasnya, sepi dan tenang, jalan menjadi lengang, hanya terdengar satu dua kendaraan lalu lalang.


"Hidupmu terlalu monoton jika setiap hari kau gunakan hanya untuk membaca, satu dua pesan kau abaikan"


Ku bereskan tempat tidur, ku rapikan buku dan pulpen, ku isi daya handphone, ku matikan lampu kamar.


"Apapun itu, iya"


 

Kehilangan sebelum Kepemilikan

Aku kehabisan opsi atau mungkin tidak mengerti apa yang musti aku tulis. Atas semua ekspektasi dan sekadar hanya ilusi-ilusi yang semakin ingin dimuntahkan untuk keluar dari isi kepala. Kalau pada akhirnya kita memilih menang atas segala ketidakberdayaan dan jujur pada perasaan, percayalah pada setiap perpisahan akan ada satu  yang berat meninggalkan.


Aku tau ada yang tidak beres dalam bagaimana cara kita menghabiskan setiap waktunya. Namun aku menolak berpikir, menolak disuruh berpikir, menolak mencari tahu letak dimana kesalahan itu bisa kita perbaiki. Anehnya, aku hanya bisa menerima mentah-mentah segala hal, semuanya, sebab aku merasa cukup tentang semua yang sudah kita sepakati diawal, tentang perasaan yang tidak lagi terbantahkan. Maaf, sekali lagi maaf, jika caraku mencintaimu hanya sebatas keinginanku saja yang tak pernah bisa memuaskan mu.


Jikalau semua harapan bisa dipastikan dan prasangka-prasangka buruk masih bisa kita tepiskan, aku merasa jauh sangat beruntung. Tapi ini tentang dua sisi, dimana masing-masing versi berhak untuk didengarkan. Aku paham. Kau dengan segala harapan dan cerita bahagia lengkap dengan perasaan-perasaan yang tidak berkesudahan itu, aku hanya ingin mencatatnya sebagai sejarah yang sudah tersusun sangat rapih. Sebab aku percaya bahwa ada alasan mengapa Tuhan mempertemukan kita sampai saat ini. Baik hanya untuk saling mengajarkan persamaan, mengenali perbedaan, menghitung "printilan-printilan", termasuk diantaranya juga perpisahan.


Sejauh ini Aku merasa sangat bangga menjadi sosok yang tidak pernah banyak menuntut dalam menjalani hubungan. Menuntut pertemuan, membredeli percakapan, meminta pemberian, dan segala hal lainnya, menyodorkan cerita bahagia dan kesedihan-kesedihannya. Aku merasa telah membuat sepatu apapun, kiri dan kanan iri.  Namun bodohnya ternyata kebanggaan itu adalah bagian dari kelemahan yang aku ciptakan sendiri, yang aku hadirkan tepat dihapanmu yang ternyata tidak ingin demikian. 


Aku ingin berbicara tentang perasaan yang selama ini aku miliki, bahwa ia telah tumbuh kokoh layaknya bangunan tua yang tidak lapuk dimakan usia, layaknya benih telah  menumbuhkan pohon kuat nan rimbun daunnya. Dan perihal ini aku telah jujur menyatakannya. Namun, setelah semuanya aku tidak berharap bertemu denganmu lagi, dengan atau tidak dengan sosok pembawaanku yang seperti ini. Sebab, apa lagi yang bisa kita lanjutkan, jika yang kau inginkan adalah apa yang tidak pernah berhasil untuk kuusahakan.


Jujur, aku ingin lelah dicap tidak berusaha atas segala hal tentang kita. Tentang semua keinginanmu dan segala pengharapan. Aku terlalu santai untuk menanggapi apa-apa yang seharusnya matang untuk kita rundingkan. Aku juga ingin tertampar atas pertanyaan, hubungan seperti apa kiranya jika setiap hari-hari penting dan segala pencapaian tidak ada aku ataupun kau di dalamnya?, tidak mengerti apa yang kau lalui setiap harinya, tidak tahu apa-apa yang telah kau rencanakan. Aku ingin disalahkan. 


Perihal setiap cerita bahagia baik aku maupun kau, itu semua masih bisa kita hitung jari. Selama dan sejauh apapun hubungan yang pernah kita rakit, kita masih bisa mengingat momen-momen apa yang bisa kita putar kembali. Namun aku tidak menyangkal, perpisahan adalah momen yang acapkali kita ciptakan. Kita pernah begitu jauh berlari berlawanan arah, dimana pertemuan adalah kemustahilan untuk dihadirkan. Namun setelahnya adalah perasaan seperti setiap detiknya hanya terasa menunda perjalanan kehidupan. Tapi, aku kembali sebab aku telah menitipkan janji yang musti kupenuhi. Aku tidak ingin membohongi perasaanku sendiri bahwa aku masih ingin bertahan. Dimana aku tidak akan meninggalkan kau yang telah kutemui, bersama menatap dalam kaca-kaca air mata. Tapi sialnya, aku terlalu naif dan tidak pernah belajar bagaimana cara memahami.


Terkadang aku berpikir, ketika apa yang aku hadapi begitu berat untuk kutanggung sendiri dimana aku butuh sosok yang menawarkan bantuannya, kukabari letak keberadaanku lantas memacu motornya mendatangiku, membawaku berkeliling untuk melepaskan sedikit penat dan masalah yang ada, ketika bayangan semua isi dunia ini tidak memihak ku, atau sekadar harapan yang sekali lagi gagal kuwujudkan, dimana kupikir sosokmu-lah yang acapkali menjadi kompas terakhir yang akan aku temui. Namun, sekali lagi aku seringkali merasa ingin memilikimu, menyayangimu, mencintaimu, bukan karena semua itu, bukan dengan alasan-alasan itu. Aku akan segera paham bahwa itu tidak akan masalah bagimu, namun aku membantah segera,  bahwa perasaan ini terlalu luas untuk bisa kutuliskan. Ah, sekali lagi, mungkin aku hanya terlalu pandai memeluk dirinya sendiri.


Namun aku sadar ketika sandaran kursimu tidak lagi memberikan rasa nyaman, kau tidak usah susah payah mencari sudut yang sesuai untuk mengubah posisi dudukmu, cukup kursi itu yang harus kau ganti terlebih dahulu. Duka, luka, lara, dan segala hal yang menyesakkan untuk diingat juga punya batas. Apa-apa akan berdamai dan memeluk pengharapan baru untuk kembali dijalankan. Segala hal yang pernah kita janjikan, yang pernah kita rencanakan, silahkan untuk kita hilangkan dan tinggalkan di sini.


Aku tidak menampik bahwa aku masih takut. Sebab selama ini aku belum pernah benar-benar merasa kehilangan, ditinggalkan, dan melepaskan. Namun aku ingin meyakinkan, sudah sepatutnya melepaskan apa yang disebut "kita" dari isi kepala masing-masing. Setelah membaca berulang kali pesanmu, silahkan untuk melepaskan jerat, berhenti berharap, kau pantas mendapatkan eksistensi lain yang mampu memahamimu, bahkan jauh lebih baik daripada keberadaan ku dan segala hal tentang caraku.


Di sini, kau bisa menganggapku seperti apa setelahnya. Perihal keberadaanku kau akan selalu tahu dia dimana dan kabarku tentu saja kau akan selalu tau bagaimana. Namun tentu saja itu sudah tidak penting jika kau telah mampu melangkah dan mampu bersikap untuk mendengar nuranimu. Terkait kepergianmu, aku tidak pandai untuk memaksamu menetap, berharapmu bertahan, sebab aku tak pandai pula berjanji untuk menjadi partner seperti apa yang kau inginkan seperti yang sudah-sudah. Pada sisi harapanku untuk bertemu anggap saja tidak pernah aku minta. Kau adalah kehilangan sebelum kepemilikan itu sendiri.


Entah, apa lagi yang musti aku tuliskan. Aku hanya percaya bahwa doa tidak pernah menyediakan tanggal kadaluarsa untuk selalu dipanjatkan. Semoga kau dengan mimpi-mimpimu akan terus berjalan dan satu persatu kau genggam. Dan nanti, saat aku mendengar kau semakin bertumbuh hebat dan tempat semula yang menjadi milikku telah diisi orang lain, Aku akan tetap memilih bahagia. Sebab kau adalah sosok yang juga penting dalam aku menjalani kehidupan dan belajar atasnya. Mari, mari hentikan segala ucapan terima kasih dan saling mengucap maaf.


Kelak jika kau telah membaca tulisan ini, silahkan untuk lekas melupakannya, baik sebelum kau terlelap atau sesaat sebelum memulai harimu.





 

Pangkal Pikiran

 

Pikiran menjadi entitas abstrak dari segala hal yang melahirkan gerak. Terlebih menyadari bahwa segalanya bisa saja berubah, dapat berubah, atau tidak bisa berubah hanya karena pikiran. Zine Vol. 1 bertajuk "Pangkal Pikiran" memuat apa saja berkaitan tentang bagaimana berbagai perasaan itu lahir dari pikiran-pikiran kita. Tentang pikiran diri sendiri, orang terkasih, percintaan dan harapan. 

Mungkin, saya tidak sedang menyiapkan teks sejarah yang cukup baik untuk dibaca, atau sesuatu yang bermanfaat untuk dikunjungi orang banyak. Saya hanya senang melakukan apa-apa yang membuat saya bahagia.  


Enjoy..😊

Tidak Habis Pikir

 

Saya menulis ini dengan rasa marah, geram, dan entahlah perasaan campur aduk, yang saya sendiri tidak habis pikir. Daripada saya hanya mengutuk, nanti bicara kotor, lebih baik saya tuliskan saja. 


Beberapa hari yang lalu, di daerah perantauan saya  terjadi aksi perampokan di salah satu kamar kos, daerah Antang, Gowa, Sulawesi Selatan. Korbannya tak lain seorang mahasiswi yang seorang diri menempati kamar tersebut. Tidak hanya tindakan perampokan, nyatanya aksi ini disertai dengan tindakan pemerkosaan. Pelakunya dari kabar terakhir berjumlah dua orang. Satu bertindak mengawasi area depan kos dan satu lagi sebagai eksekutor, yang diketahui sudah berulang kali melakukan tindakan tersebut. 


Aksi ini bukan lagi terbilang bejat, tapi memang sungguh sangat biadab. Pelaku dalam pantauan cctv melancarkan aksinya dengan sangat tenang, berjalan, melompati pagar sampai mencungkil jendela, terlihat sangat profesional.  Laptop, uang, dan barang berharga lainya digasak, dan aksi pemerkosaan yang dilakukannya dengan  mengancam korban menggunakan benda tajam jika nanti berteriak. Padahal saat kejadian korban diketahui sedang datang bulan. Ya Tuhan. Tidak hanya itu, rasa geram saya juga pada saat penangkapan pelaku oleh polisi. Dari potongan tayangan yang beredar, Istri pelaku, menangis tersedu-sedu memohon agar penangkapan suaminya dilakukan dengan tidak menyakiti, atau dalam bahasanya ya biasa-biasa saja. Saya tau perasaan sayang, tapi ini sebagai perempuan atau bisa dianggap, bagaimana perasaan, ibu tersebut jika memiliki anak perempuan? Seharunya ibu itu melihat lebih jauh, tindakan suaminya bukan lagi tentang makan yang haram, tapi tindakan paling tidak terpuji yang pernah dilakukan laki-laki.


Hari itu bisa dipastikan hari paling suram dalam hidup sang korban. Bagaimana tidak, niat merantau, jauh dari orang tua untuk menjalani pendidikan harus menelan pil pahit. Mungkin kita, bahkan dengan perenungan paling dalam tidak mampu membayangkan perasaannya yang diliputi trauma dan luka mendalam sampai saat ini. Malam-malam berikut yang dilaluinya adalah malam-malam menakutkan yang harus dihadapi. Hari-hari paling berat yang harus dilalui.


Saya dan kita semua pasti mengharapkan pelaku dihukum seberat-beratnya di tangan hakim dan juga Tuhan selalu mendengar dan tidak pernah tidur. Untuk korban, semoga Tuhan titipkan kekuatan sedalam lautan, semoga mimpi dan cita-citanya tetap berhasil ia gapai walau dengan perasaan yang dipikulnya, dan keluarga korban diberi kesabaran seluas-luasnya. Aamiin


Pada saat semester awal, pertama kali jauh dari orang tua, hampir setiap malam saya selalu ditelpon hanya untuk mengingatkan dan  memastikan pintu dalam terkunci, jendela tertutup rapat, pastikan teman samping kamar ada atau tidak ada. Pesan yang lama-kelamaan rasanya pernah kubalas dengan berat dan "iye iye saja". Baru saya sadari, ternyata, perasaan orang tua adalah perasaan paling luas, tulus,  demi menjaga keamanan sang anak. 

Tips aman ngekos untuk teman-teman, adik-adik, dan siapapun itu.

1. Selalu pastikan kamar dalam keadaan terkunci always, lebih baik lagi jika keamanan ganda.

2. Punya kunci pagar sendiri (kalau bisa)

3. Simpan nomor telpon ibu/bapak kos, dan teman samping kiri kanan kamar.

4. Ketahui selengkap-lengkapnya lingkungan kos

5. Jendela tidak usah dibuka, pasang mati saja (panas? Nyalakan kipas angin nomor 3 paling kencang).

6. Selalu berdo'a


Semoga kita semua, selalu dilindungi oleh sang Maha Pelindung. Aamiin


If You Love Me

Saya ingin menuliskanmu dalam cerita paling bahagia yang pernah saya punya. Menyimpannya dalam setiap lembaran-lembaran indah yang apabila telah kuselesaikan isinya ingin kembali ku buka lagi dan kujelajahi setiap sisinya, tanpa sedikitpun tersentuh kata bosan. Menjamumu dengan perasaan paling dalam lengkap dengan maknanya. Menelusuri setiap taman, pantai, gunung, dan segala tempat indah yang telah masuk dalam list impian, dengan menghamparkan alas yang baru saja selesai saya sulam setiap motifnya. Menyuapimu dengan lembut makanan yang habis kubuat dengan membolak balikkan resep entah harus kumulai darimana. Dan kembali pulang dengan perasaan paling damai yang pernah saya terima. 


Saya ingin menuliskanmu dalam cerita paling menyesakkan yang pernah saya punya. Menitikkan bulir dan membasahi pipi, setiap kali saya membukanya. Cerita masing-masing  keras kepala, tak mau mengalah, rasa curiga dan segala bentuk penghakiman. Melewati hari-hari terpanjang tanpa pernah bersuara. Menyambut pagi yang tidak ada satu disisi, santap siang tanpa lagi berhadapan, tidak ada ucapan selamat malam dan mimpi indah. Hari-hari yang kita lewati seperti hanya diri dan bayangan sendiri.


Tapi, saya teramat bersyukur dengan perasaan-perasaan yang kesemuanya telah berhasil saya tuliskan. Dengan perasaan paling lengkap untuk saya hadirkan dalam memori-memori panjang perjalanan kehidupan. Kau telah melengkapiku dalam setiap dentingan waktu yang berhasil kita lalui seiring berkurangnya denyut kesempatan.


Jika pada bab awal adalah kutuliskan bagaimana Engkau meminta hatiku maka bab berikutnya adalah bagaimana Aku mulai jatuh kedalam dirimu. Kau berceloteh kala itu, bahwa teori jatuh cinta musti harus diperbaharui. Bahwa cinta nyatanya bersumber dari telinga. Ya telinga. Engkau merasa yakin hanya dengan mendengar suaraku, sebab ditengah-tengah kata "heart" terdapat "ear" katamu, dan lebih lanjut menimpali dengan mendengarkan, perasaan itu muncul dengan saling mengharapkan. Celoteh yang sangat kekanak-kanakan. Tapi semakin jauh, semakin saya setuju dan menyadari bahwa mendengarkan adalah kunci dari kita bertahan sampai di titik sekarang.


Dan pada hari ini, engkau telah menang diantara selang-selang yang melilit tubuh rentamu selama ini. Engkau telah membuktikan perjuanganmu untuk selalu bersama ku selama apapun yang kau bisa. Dan pada hari ini, satu dari kita harus pergi menjemput taman-taman yang lebih indah lagi jauh lebih indah dari tempat yang pernah kita singgahi bersama. Jika saja Tuhan memberitahu saya tentang takdir apa yang akan datang tanpa ada titik rahasia, saya hanya ingin lebih rajin menulis setiap cerita apapun itu setiap harinya bersamamu. Menyimpannya di depan kulkas, diatas meja, dibalik cermin, apapun itu. Sebab, jika hal ini terjadi kita masih punya cerita untuk dibaca kala ingatan tidak lagi kuat untuk bertahan. 


Terima kasih. Terima kasih telah menerima hadirku dengan segala macam kurangnya, segala macam ketidakcakapannya. Dan disamping tempat peristirahatan mu yang terakhir, dengan tanah yang masih basah diselimuti bunga-bunga indah ini, Aku hanya ingin membisikkanmu cerita paling akhir, bahwa Aku mencintaimu seluruh diriku. 


"Kita hanya perlu saling mengingat, jika kita saling mencintai"


Mengalun lembut " If you ever forget that you love me - Isak Danielson"



Ich Un Du

Martin buber, seorang filsuf asal Jerman yang lahir di Wina, memberikan pandangan dialogisnya tentang perbedaan  relasi Aku-itu, Aku-Dia dan Aku-Engkau. Realitas ketiganya ini sangat berbeda. Aku-itu, adalah hubungan manusia dengan benda disekitarnya yang tidak memiliki timbal-balik dalam berkomunikasi, Aku-Dia adalah hubungan biasa yang terjalin karena adanya sesuatu yang mesti dilaksanakan karena adanya kewajiban atau keharusan, seperti guru yang mengajar siswanya, dokter yang memeriksa pasiennya, penjual yang melayani pembelinya dan sebagainya, sedangkan Aku-engkau adalah realitas hubungan yang dijalankan atas adanya rasa cinta, kasih sayang, dan realitas "merasakan". Terkait hubungan Aku dan Engkau (ich un du) ini, seperti seseorang mencintai orang lain karena diri orang lain itu sendiri. I love you because, you are you. Tidak ada elemen lain lagi yang mengikutinya, selain karena dirinya sendiri, dirinya yang satu dan tidak ada yang menyerupainya dengan yang lain. Aku-Engkau adalah hubungan yang tidak bisa berdiri sendiri, ada perasaan saling ingin memahami, mengerti, dan menghargai, seperti dalam hal Aku bertanya dan Engkau menjawabnya.  


Dalam pandangan buber lebih jauh, ia menambahkan realitas kehidupan manusia adalah perjumpaan. Perjumpaan yang nyatanya berbeda dengan pertemuan. Setiap hari mungkin kita bertemu dengan banyak pribadi. Orang disamping kendaraan kita saat lampu merah, pengamen jalan dengan nyanyian dan dos ditangan, dia yang membantu kita putar arah, pembawa paket yang datang kerumah, kasir minimarket yang menghitung barang belanjaan, atau tetangga yang mengetuk pintu memberikan sedikit makanan yang lebih di rumahnya. Kita semua bertemu tapi tidak benar-benar berjumpa. Perjumpaan yang menghendaki kita menyelami pribadinya, membaca individunya. Perjumpaan yang selanjutnya kita sepakati bahwa ada kehendak untuk saling memberikan pengaruh, keterikatan dan rasa tak ingin dipisahkan.

 

"Ich Un Du, sebagai pelestari hubungan yang mampir dalam perasaan masing-masing"

 

Ketika kita berhadapan dengan seseorang, wajah yang saling berpandangan, ada realitas yang saling ingin memiliki dan tak ingin dijauhkan. Perjumpaan Aku-Engkau adalah keberadaan yang tetap dan selalu ada. Dan, supaya perjumpaan itu tetap utuh, antara hubungan Aku-Engkau tidak ada yang boleh mendominasi, menguasai, dan mendahului. Titik tertinggi hubungan antara Aku-Engkau ialah bahwa Aku bukan Aku jika Engkau tidak ada.


Pertemuan ini mudah, dan perjumpaan itu amatlah sulit. Kita sering kali mengatakan telah bertemu, kenal satu dengan satu, namun amat jauh dari kata berjumpa. Pertemuan itu tanpa kesan, sedangkan perjumpaan itu mampu mengubah kita sebagian atau keseluruhan. Setelah kita berjumpa, dan terasa ada hilang setelahnya kala berpisah, di situlah perjumpaan Aku-Engkau yang sesungguhnya. Ada ruang-ruang kosong yang terasa hampa entah karena apa.


Terkait perjumpaan ini, sudahkah engkau berjumpa dengan ibu bapakmu, sahabat mu, orang yang teramat engkau sayangi, atau dirimu sendiri?. Mari kita menghitung seberapa banyak perjumpaan dengan terjalinnya pertemuan-pertemuan itu.


Pic: unsplash

Kok Ada yah, Orang Seperti Nicholas Saputra?


Saya heran? Ya wajar. Ditengah sejuta karakter manusia yang bermukim di planet ini, mulai dari yang baik aja sampai nyebelinnya tingkat ubun-ubun, eeh ternyata ada Dia, Nicholas Saputra yang nampaknya sebagai oase di padang gurun yang panas. Coba bayangkan setiap apa yang dia kerjakan langsung rame, tranding. Bukan viral karena konten yang bodoh ya, tapi karena kebaikan hatinya.


Nicholas Saputra, pemain Rangga di AADC, pemeran Soe Hoek Gie dalam Catatan Seorang Demonstran, dan beberapa karyanya dalam perfilman, memang selalu menarik perhatian hal layak ramai. Pasalnya dengan karakter dia yang apa adanya, dan tidak banyak mengumbar kehidupan pribadinya, sukses membuat orang-orang menaruh hati padanya. Alumni Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini (weis tau ya saya) juga didaulat menjadi duta Unicef untuk pendidikan, ia juga concern terhadap masyarakat pedalaman, budaya, sampai kampanye lingkungan. 


Nah baru-baru ini, namanya tranding di twitter , tau dong ya, kalau bang Nichol lagi antre buat divaksin. Yang namanya publik figur, terkenal, dia sudah diminta beberapa kali untuk langsung maju, Eh, dia malah bilang "tidak usah terima kasih, saya antre saja", coba kalau artis yang lain dikasih karpet merah? Minta tambah. Tidak hanya itu, ibu" yang mengunggah juga bilang kalau, Ia juga membelanya pada saat ingin di sela, dengan mengatakan "Ibu ini udah disela 2 kali lho". Wah, sederhana namun rasanya kok menenangkan. Mungkin kalau orang lain menganggap itu bukan urusan saya dan akhirnya masa bodoh.


Perihal antri memang tidak semua orang bisa. Saya ingat sampai sekarang, saat menjadi pengurus OSIS pas SMA, masa pendaftaran  siswa baru memang waktu-waktu hecticnya kita, apalagi dilaksanakan pas bulan puasa. Nah pas pendaftaran gelombang kedua, ada seorang guru yang menyodorkan saya sobekan kertas yang sudah tertulis empat nama siswa berikut nomor pendaftarannya, dengan maksud untuk memanggil nama-nama itu terlebih dahulu daripada yang lain. Ya secara aturan kan sudah salah, map paling dibawahlah yang harus diprioritaskan. Tapi karena saya belum punya keberanian kayak kakak Nicholas ini, ya akhirnya saya lakukan. Maafkanlah saya untuk orang tua murid diluar sana. Terkait sekolah saya, biar kakak Nicholas saja yang tau. Budaya-budaya yang maunya duluan, main serong sembarangan, seharusnya memang sudah minggat dari kehidupan kita gak sih, Malu.


Bukan hanya itu, namanya juga langsung tranding pada saat Ia berani menghalau pengendara motor yang naik ditrotoar jalan, kan bukan fungsinya yak. Dia yang menaruh perhatian pada hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan dan memperingati itu memang adalah makhluk yang langka, dan hanya 1% di muka bumi. Sampai-sampai bung Fiersa juga bilang, betapa indahnya ciptaan Tuhan, buat Nicholas Saputra. 


Ada cerita lain juga, tentang kehidupan SMA nya yang begitu care sama doinya. Walopun belum dikonfirmasi ya kebenarannya sama mas nichol, tapi bikin kesemsem bacanya. Tapi cukup, kita lagi puasa. Ya cari sendirilah. 


Nicholas Saputra  sangat aktif mengkampanyekan tentang pentingnya menjaga lingkungan mulai dari sampah plastik sampai perubahan iklim dari taraf lokal hingga internasional, kritis terhadap perkembangan dunia pendidikan dari buta huruf sampai pemenuhan akses fasilitas sampai ke pedalaman. Dan juga total dalam membuat sebuah karya, seperti film yang diproduserinya, Semes7a.  


Ya begitulah Nicholas Saputra, aktor yang jauh dari sensasi namun penuh prestasi, dengan good attitudenya memang sudah layak disebut figurnya publik. Dengan apa yang ia sudah lakukan sampai sekarang, terlepas bagaimana nanti ya itu urusan lain. Seru kali, buat event dan narasumbernya mas nichol ini, dan saya sebagai panitia, biar bisa foto gitu. Atau mungkin, biar bisa sapa, saya harus lari ke hutan lalu ke pantai, ya mas nichol?


Dan mungkin kalau adik-adik sampai emak-emak ditanya apa kepanjangan NS sudah tau kali yha, yang pasti bukan Nur Susilawati tapi Nicholas Saputra. Hihi


Ini nih, panjang umur hal baik.



PEREMPUAN


Senang sekali rasanya ketika memasuki bulan yang didalamnya terdapat hari-hari besar atau perayaan tentang perempuan, Maret ada Internasional women's day, April ada kelahiran Kartini, sampai Desember ada hari Ibu, sebab banyak pembahasan tentang perempuan, dan ya, karena saya perempuan.


Berbicara tentang R.A. Kartini, pahlawan perempuan berdarah bangsawan namun sangat menentang praktik feodalisme yang membusukkan, yang punya hasrat besar mendorong emansipasi kaum perempuan. Sangat menyukai pengetahuan barat, namun bukan antek barat. Kecintaannya kepada bumi pertiwi ia torehkan melalui gagasan, ide yang menorehkan terang dalam gelapnya pemikiran perempuan pribumi saat itu. Perempuan yang meninggal pada usia 25 tahun, beberapa hari setelah ia melahirkan putra pertamanya, buah hatinya dengan pria yang dijodohkan orang tuanya. Gelar kepahlawanan yang tersemat pada diri Kartini tidak lepas dari kontoversi dan akan selalu  menjadi bahan diskusi, ada yang mengatakan peran Kartini tidak seberapa karena tidak pernah menenteng senjata jika dibandingkan dengan pahlawan perempuan lainnya, Kartini condong dengan pemerintahan barat, sampai pada buku-bukunya yang sepenuhnya tidak bisa dipercaya sebab hanya kumpulan dari surat-surat yang pernah ia tuliskan. Namun terlepas dari perdebatan itu, pemikiran Kartini untuk memerangi kebodohan sampai pada memerangi ketidakadilan pada perempuan sudah menjadi penerang hingga hari ini.


Namun itu Kartini, yang namanya akan selalu harum, namun bagaimana dengan Tini-Tini yang lain?


Beberapa hari sebelum tanggal 21 April, seorang Ibu, inisial AN, meminta dibelikan kacang almond kepada suaminya untuk memperlancar ASI. Alasan sang ibu, kualitas ASI menjadi bagus dan banyak dengan mengkonsumsi kacang almond. Sebab, ia merasa ASI-nya hanya keluar sedikit dan akan terasa sakit saat dipaksa pumping (teknik memerah ASI dengan strategi tertentu). Namun sang suami tidak mengindahkan keinginan istrinya, adu mulut terjadi dan suami langsung naik pitam. Ia lantas memukul, menjambak, mendorong, mencekik hingga darah keluar dari hidung dan kepala sang istri. Ih. Kok ada laki-laki yang tidak se-bertanggungjawab itu ya. Kalau memang belum mampu beli ya bisa dibicarakan baik-baik, kalau memang enggan ngapaian punya anak. Emosikan jadinya.


Belum lagi, berita seorang perawat perempuan (C)  yang dianiaya oleh ayah dari pasien di Palembang, sebab dinilai lalai dalam menjalankan tugasnya. Kronologinya bermula saat perawat ini selesai melepaskan infus dari pasien dan pengerjaannya sudah memenuhi SOP, namun karena pasien, seorang anak umur 2 tahun  sangat aktif sehingga perbannya lepas dan darah merembes keluar, sang ayah yang baru saja tiba langsung menampar dan memukul perawat tadi. Memaksanya untuk berlutut dikakinya dan meminta maaf. Namun, walaupun korban ini sudah melakukan itu semua dan meminta maaf berkali-kali, pelaku tetap memukul sampai pada akhirnya beberapa rekan perawat berhasil melerai. 


Kasus lain, seorang perempuan, 21 tahun, harus rela melahirkan sendirian di kamar kosnya lantas pria yang diakuinya pacar enggan bertanggung jawab. Namun ia tetap mempertahankan janinnya dan berhasil melahirkannya walaupun bayinya lahir dalam keadaan tidak selamat. Dalam kesendirian dan dinginnya malam, dan rasa sakit habis melahirkan, ia memutuskan untuk tetap mendekap dan tidur bersama bayinya. Dan keesokan hari, ia terpaksa membuangnya. Dan pada saat ditemukan, setengah bagian dari kaki sang bayi telah dimakan anjing. Netizen ramai memojokkan sang ibu, dianggap sangat biadab, tidak manusiawi, hingga disumpahi. Mereka lupa, bahwa pasti ibu muda ini juga sama takutnya, bimbang dan gamangnya dengan situasi yang dihadapinya. Dengan segala cacian, mereka seolah menyampingkan kemana perginya laki-laki yang menghamili, bukankah yang lebih tidak tau malu dan lebih rendah adalah dia, laki-laki, pacarnya?


Rumah, tempat kerja dan lingkungan sekitar bisa menjadi tempat yang belum aman bagi perempuan. Dalam diskusi mba Yenni wahid dengan Habib Quraish Shihab di Narasi mengulas tentang bagaimana peran perempuan dalam agama dan realita masa kini. Mba Yenni mengatakan bahwa perempuan itu adalah kunci peradaban. Ditengah perkembangan teknologi, belum adakan yang mampu menciptakan rahim, tempat kehidupan itu bermula. lebih lanjut mengatakan, bahwa perempuan hari ini tidak lagi bergelut dengan ranah-ranah domestik tapi lebih luas dalam hal pergerakan dan diskusi, pemberdayaan dan tidak lagi terkungkung dalam peran. Seorang perempuan yang telah menikah juga berhak memilih untuk tidak mengganti nama belakangnya mengikut kepada suami. Untuk tetap mempertahankan identitas yang melekat pada dirinya. Dan ungkapnya, masih banyak dalil-dalil agama yang tidak jelas riwayatnya yang menjadikan perempuan itu tidak bebas mengekspresikan dirinya. 


Habib Quraish, menuturkan, bahwasanya dunia ini tidak indah jika tidak ada perempuan, dan kehidupan tidak akan berlanjut. Peran perempuan dan laki-laki membuat kehidupan itu berjalan. Dan posisi perempuan dalam agama telah dijunjung tinggi. Lebih lanjut, beliau mengatakan ada riwayat begini: jika anak itu lahir sebagai laki-laki, dikatakan "lahirlah dan bantu Ayahmu" dan jika ia perempuan "lahirlah dan Tuhan akan bantu Ayahmu". Maka perempuan itu adalah berkah. Antara peran laki-laki dan perempuan  harus dilakukan atas dasar kerjasama.


Baru-baru ini, Komnas perempuan mengutuk ucapan sang Youtuber yang baru saja menghelat pesta pernikahannya secara mewah, Atta Halilintar. Ia mengatakan, bahwa suara suami adalah suara Tuhan. Hellaw bang Atta, jika suara itu adalah suara hardikan, bentakan, menyinggung sampai menyumpahi istri apakah itu juga suara dari Tuhan? Tuhan yang mana?. Jangan lupa, ada perempuan yang masih punya rasa berani melangkah ke pengadilan agama mengambil surat cerai, namun ada juga yang rela memperpanjang rasa sabar dan pasrahnya menanggung beban berumahtangganya, beban atas kekerasan dan gasakan suami terhadap istrinya. Baik mereka, perempuan yang berhasil diliput maupun jauh dari awak media, banyak bang Atta, banyak.


Dan berbicara tentang peradaban, saat ini Korea Selatan sedang getir sebab dilanda krisis bayi. Lantaran, banyak perempuan Korsel menganggap bahwa pernikahan hanya akan membuatnya tidak berkembang dan segala ketakutan-ketakutan rumah tangga lainnya. Bayangkan jika suatu negara hanya diisi kebanyakan kaum lansia dan kurang anak muda. Mereka hanya bekerja pada angka-angka kematian. Dan tentu saja, tingkat produktivitas negara perlahan akan melambat. Lihat, keputusan perempuan itu mempengaruhi apa-apa yang belum dan yang sudah berjalan. 


Perempuan juga tidak lepas dengan namanya periode menstruasi. Ingat, haid bukan lagi hal tabu untuk dibicarakan. Sebab proses haid tidak bisa dilepaskan dari kepemilikan perempuan terhadap tubuhnya. Namun, ketidakadilan juga nyatanya merambah pada akses untuk mempunyai pembalut setiap bulannya, padahal stok pembalut wajib hukumnya. Tidak semua perempuan nyatanya mudah mendapatkan pembalut, seperti tayangan Najwa baru-baru ini. Dalam pernikahan, ia akan menambah cost rumah tangga. Dan jika suami tidak paham akan cost ini, jangan sampai hal tersebut akan menambah 3 kasus yang pertama. Dalam buku yang pernah saya baca tentang perjalanan kehidupan mahasiswa di Al Ahzar Qairo Mesir, penulis menceritakan bahwa ada mahasiswi yang telah lama disukainya, mengirimkannya surat yang kebetulan pada saat itu handphone belum banyak dimiliki. Isi suratnya, bahwa gadis itu meminta pinjaman kepada penulis untuk membeli beberapa perlengkapan bulanan, sebab kiriman orang tuanya terlambat datang. Atas kesadaran penuh sang penulis ia pun mengirimkannya dan menitipkannya kepada sahabatnya, kesadarannya bahwa memang kebutuhan perempuan jauh lebih banyak dari kebutuhan pria. Dan kesadaran yang rasanya sederhana, rasa percaya, dan saling membantu yang seperti inilah yang hendaknya dipupuk, bukan sikap mendominasi dan merasa superior.


Diskusi-diskusi tentang perempuan akan selalu lahir, guna menyadarkan bahwa ia juga punya tempat dan peran dalam kemaslahatan umat dan lingkungan sekitar. Namun, merayakan hari Kartini dan hari perempuan lainnya jelas tidak akan membuat kita kemana-mana jika pikiran masih dangkal tentang nasib kita sebagai perempuan. Kesadaran, tentang pentingnya melahirkan ruang-ruang yang mengakui kedudukan perempuan. Dalam lagu Banda Neira, tuan berjanji kepada puannya bahwa "Kau aman ada bersamaku", sepenggal lirik yang indah akan terwujudnya harapan-harapan itu. 


#Perempuanmembantuperempuan

#Kartini

Pic: unsplash.com

Sisi Lain Menerima


Di tengah aktivitas monoton bergelut dengan tumpukan buku tebal, hasil print out yang gagal, catatan kusut di white board kamar, dan seabrek peralatan tempur lainnya, akhirnya saya memutuskan untuk sejenak mengambil jeda.  Bergegas memanaskan air lantas menyeduh segelas teh panas berikut sesendok cembung gula pasir tertuang di dalamnya. Sembari menunggu sedikit hangat, menepikan diri dengan kembali membuka buku yang telah habis dibaca, namun dibaca kembali adalah rutinitas monoton yang kedua. Mencari kata, kalimat dan quotes" favorit yang telah diberi garis bawah, ya sekosong dan senisbi itu. 

Lantas memberi perhatian lebih kepada lengan tangan yang entah minggu lalu yang lalu keberapa, kecipratan minyak panas dan membentuk motif unik layaknya layang-layang dengan ekor yang panjang. Saat itu sempat misuh dan menyalahkan diri sendiri dan setiap kali terkena air tentu saja rasanya perih. Melihat luka mengering, perlahan memudar dan entah kapan menghilang ada satu yang saya pahami bahwa waktu tidak pernah punya tugas untuk menyembuhkan. Luka itu mengering sebab saya menerima dan melihatnya sebagai konsekuensi.

Disamping begitu banyak dari kita yang siap menjadikan waktu sebagai tameng ketika sesuatu terjadi diluar rencananya, lantas berucap "Aku akan sembuh bersama waktu". Terdengar cukup bijak, padahal yang saya tau, sebuah harapan yang berujung kecewa, luka-luka kesedihan dan perasaan-perasaan yang tidak bersahabat lainnya tidak serta merta hilang hanya karena waktu. Sebab nyatanya, sepaham atau tidak, begitu banyak dari mereka yang masih berat, sulit menerima, dan bahkan rasa dendam yang tidak pernah hilang walau waktu telah berjalan begitu lama. 

Kata menjadi manusia, setiap orang membawa lukanya masing-masing. Saya, kamu dan siapa pun mereka di luar sana. Sudah selesai atau masih bergelut dengan perasaan-perasaan itu, namanya luka tidak ada yang jauh lebih berat atau ringan, saya rasa semuanya sama, tergantung mereka bisa menerima atau tidak. 

Saya, well. Ada perasaan asing yang sepakat kusebut luka. Tentang apa-apa saja yang berjalan terasa berat, perasaan sendiri, dan segala macam perasaan yang sulit diterima, kala waktu yang berbeda-beda, semua terakumulasi dan meminta perasaan lain untuk menerima. Semuanya berproses. Pada akhirnya semua tiba pada perasaan yang biasa, sebab luka-luka itu telah membuat kita menerima dan bila beruntung, kita akan mencintai luka-luka itu. Dan saya juga merasa, itu cukup.

Diri, sangat mudah menerima perasaan-perasaan yang membuatnya bahagia, tentu, namun di satu sisi, bukan manusia namanya jika tidak pernah merasakan perasaan-perasaan lain disamping itu. 


"tea time"🍵
 

Surat yang Tak Meminta Balasan


"Aku hanya takut satu hal, dimana semuanya akan berantakan" katamu dengan terbata. 

"Tidak apa, sekali lagi ku katakan, tidak apa. Hidup nyatanya harus tetap berjalan, bukan?."

Percakapan kita berakhir malam itu. Setelah tegukan terakhir minuman mu, Kau berjalan mantap keluar pagar rumahku sambil mengucapkan janji bahwa mungkin sesekali kau akan mengabari tapi tak berjanji mengisi hari-hari seperti sebelum hari ini.


✵✵✵


Akhirnya pekerjaan ku selesai dan disambut langit sore yang pekat sekali. Nampaknya memang sudah masuk musim penghujan. Seminggu terakhir kota ini harus rela mandi berkali-kali siang dan malam. Genangan air muncul sana sini siap membiaskan lampu kota. Bagi Aku sebagai pejalan kaki,  genangan itu menjelma sebagai momok yang menakutkan tak kala pengguna jalan dengan entengnya melaju kendaraannya dengan kecepatan yang tak terkira adanya. Tolonglah, mari menjadi manusia yang bisa mengerti, bahwa hidup tidak selalu menuruti ego sendiri.

Aku berjalan pulang sembari menenteng payung yang telah menjadi sahabat pergi dan pulangku. Jarak rumah dengan tempat kerjaku lumayan dekat, hanya terpisah satu jalan raya dan dua gang. Oh iya, mari kuperkenalkan Aku Galuh, perempuan  kasat mata yang mengabdikan hidupnya bergelut dengan buku dan debu-debu di gerai kecil distributor buku dipersimpangan jalan kota ini, "Akar Rumput" namanya. 

Akar rumput tumbuh berkat aku dan dua kawan yang tetap semangat memupuk dan merawat cinta literasi ditengah menggilanya serangan gawai. Bagi sebagian orang mungkin mengganggapnya sesuatu hal yang bodoh, dimana sekumpulan sarjana lebih memilih merawat toko yang tidak punya keuntungan berlebih dibanding bekerja di sebuah perusahaan besar layaknya cita-cita anak sekarang. Mereka lupa bahwa gelar sarjana tidak berlaku bagi mereka yang mengejar mimpinya dengan tidak kebanyakan harapan orang-orang. Kalau begitu, mengapa harus rela mengejar kata sarjana? dari suara lainnya. Proses belajar tidak hanya tentang gelar, kami pun mendapatkan kesadaran mengahdirkan akar rumput dari proses menjadi mahasiswa. Ah sudahlah, kita hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Saat baru saja berjalan, aku menyaksikan di balik kaca cafe, dua sepasang manusia saling melempar tawa, berbagi cerita sembari menikmati minuman berdua. Lantas aku mengingat seseorang yang tak ingin ku hadirkan. Suasana sore ini memang semakin mendukung kenangan-kenangan itu muncul kembali, kenangan tentang ia yang tak lagi ku ketahui kabarnya kini. Hujan akhirnya turun. Dengan cepat ku rentangkan payungku dan tergesa-gesa mengambil langkahku.


 ✵✵✵


Sesampai di rumah, ibu sedang membuat hidangan makan malam kami berdua. Ibu termasuk wanita yang sangat menikmati perannya di dapur. Entah berapa banyak resep masakan telah dibuat olehnya. Berkat kemampuannya ibu acap kali dimintai sebagai juru masak saat berlangsungnya berbagai hajatan.

"Luh, beberesnya cepet ya nak, baru kita makan"

"Iya bu, laper juga nih aku" sambil melangkah menuju kamar

"Eh, tunggu. Tadi sore ada temenmu yang dateng ke rumah, bawain kue kesukaan ibu, sama dia nitip surat  untuk Galuh". 

Sambil mengernyitkan dahi aku menjawab 

"Surat? Siapa bu?"

"Haduh ibu lupa nanya namanya, pokoknya dia wes ganteng" sambil menyodorkan surat itu kepadaku.

"Duh ibuu" sambil ku mantapkan langkahku meninggalkan dapur.


✵✵✵


Untuk Galuh


Dirimu, yang selalu kuharap baik-baik saja. Maaf, lagi-lagi aku masih menunjukkan sikap pengecut sebab hanya lewat surat ku sampaikan permohonan maaf terlebih bukan diriku yang membawanya langsung kepada mu. Sebab nyatanya nyaliku senantiasa ciut untuk menghadirkan sosoknya yang telah lama asing di kehidupanmu. 


Aku baik-baik saja jauh lebih baik dibanding saat Aku melangkah pergi malam itu. Ah, mungkin kabarku pun juga tidak penting bagimu sekarang.

Dengan ini Aku hanya ingin berterimakasih dengan sedalam-dalamnya rasa dan ucapan. Aku tak pernah menampik akan peranmu membentukku sampai di titik ini. Sebagai sosok yang selalu mendukung setiap langkahku kaulah penentu atas setiap hal yang kucapai. Pun kaulah menjadi alasanku untuk selalu bertahan atas apa yang aku hadapi. Kau pernah mengatakan kepadaku, bahwa kau tak akan pernah jatuh cinta dengan apa yang aku bawa kecuali kegigihan ku meraih sesuatu sebagai seorang laki-laki. Apapun yang aku punya tetap itu tiada artinya bagimu jika bukan dari tanganku sendiri, kan?. Dan tentu saja kau paham, bahwa itu alasan terkuatku ingin meraih impianku. 


Kau yang dulu selalu siap kusibukkan membantuku menyediakan segala macam perlengkapan ku, membantuku memilih kata yang tepat untuk menjawab proses wawancaraku, untuk pekerjaan yang kau tau dari dulu adanya bahwa itulah yang ku harapkan selalu. Bukan hanya itu Galuh, handphone ku akan selalu sibuk kala pagi menyingsing membangunkan ku padahal aku masih ingin menikmati waktu. Pun saat keluar pengumumannya, kau berdiri dengan mata berkaca-kaca dan memandangku lamat-lamat bahwa Aku berhasil. Namun nyatanya bahagia dan kesedihan memang punya waktu yang berdekatan, sampai kabar bahwa aku harus ditempatkan di pulau seberang. 


Setelah kepergianku malam itu perasaan ku kacau, pikiran ku kalut. Dan seperti kau tau beberapa kali Aku mengadu kepadamu tentang bagaimana hariku, namun ku rasa balasanmu dari hari ke hari semakin hambar, sesuatu telah pudar, kita semakin tak mengenali satu sama lain. Dan di saat itulah Aku memutuskan untuk menyudahi. Maaf jika itu hanya dari sisiku saja, aku cukup mengambil kesimpulan dari bagaimana cara kau menyambutku.


Sebagai insan yang semakin bertumbuh dewasa Galuh, Aku patut membuktikan satu hal, bahwa Aku berani mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah ku sendirian sekarang. Tapi Aku lupa sebagai insan dewasa Aku juga butuh seseorang yang selalu di sampingku, sebagai pelengkapku. 


Galuh, Kita sudah begitu jauh, bukan hanya pada jarak, pun juga pada perasaan yang sulit menggenggam. Layaknya sebuah perangkat, Kita berdua berjalan begitu stagnan. Tidak ada lagi ruang untuk memperbaiki segalanya. 


Lewat surat ini ku sampaikan kepadamu yang pernah hadir dalam kehidupanku, bahwa aku  tidak lagi sendirian. Sebelumnya, aku tetap bertanya-tanya tentang perasaan ku, sampai ku putuskan, bahwa aku telah memberinya kepada orang lain. Sesaat setelah kau membacanya, altar agung telah menyambut ku, menjadikan aku dan dia menjadi Kami. Seseorang telah menjelma bagian dari diriku Galuh, bagian dari tanggungjawabku sekarang. 


Seperti yang kita ketahui, bahwa tempat kita berpijak juga tidak begitu luas. Mungkin satu dua kesempatan kita akan bertemu kembali, tapi dengan perasaan yang tidak lagi sama. Aku paham dan sangat yakin kau perempuan yang tau inginnya sendiri. 


Terima kasih atas segalanya. Sehat selalu Galuh, pun juga Ibu dan bapak mu. 


Dari aku, Theo

2021


Tanpa ku sadari sebongkah air mata jatuh dari pelupuk mataku. Di tepi ranjang, aku menikmati perasaan sesak dihunus berkali-kali entah itu apa. 


✵✵✵


Di meja makan, ibu menikmati makan tanpa banyak bercakap seperti biasa. Mungkin ibu ingin bertanya tentang surat itu, sudah ku baca, dari siapa, perihal apa, tapi ibu menahannya. 

"Aku rindu Bapak bu" ucapanku tegas menghilangkan keheningan.

Setelah sekian detik ucapanku menggantung, Ibu lalu menjawab,

" Ya wes, besok gak usah ke toko. Kita beli bunga buat Bapak ya". 

Ibu senantiasa tau perasaan ku yang tak perlu kujelaskan. Setiap kali Aku menyebut Bapak sesuatu pasti telah terjadi. 


✵✵✵


Aku menjalani malam terpanjang untuk kedua kalinya hari ini, sama pada saat itu. Aku mungkin tidak cukup baik dalam mencintainya. Aku mungkin tak cakap mengenali inginnya. Tapi Aku tetap harus melangkah, tidak kokoh sesaat pun tak apa. Rasa ini juga harus kelewati dengan cara yang baik. Seperti biasa, hidup nyatanya harus tetap berjalan.

Perasaan memang berbeda dengan buku di emperan toko, merusak buku berarti membeli, merusak perasaan kau tak wajib memperbaiki.

I lost you, but I found me, so I win.



⚞The End⚟




Pic: Pinterest



 

Tuan Rumah dan Tersangka Utama


Adalah kita selayaknya menjadi tuan rumah atas diri sendiri. Punya kuasa penuh sebagai penentu atas apa yang hendak diisi pun juga apa yang ingin dikeluarkan dari setiap sudut bagian di dalamnya. Menghadirkan sisi untuk dihias seperti apa wajahnya, pilihan warnanya, temaram atau terang lampunya, atau sekadar menyisihkan ruang kosong untuk diisi sesuatu yang tak pernah diketahui untuk siapa. Maka betul, jika terjadi hal yang tidak baik-baik saja atasnya, maka tuan rumah itu sendirilah yang akan menjadi tersangka utamanya.

Dan tak ada rumah yang baik-baik saja sepanjang harinya. Mustahil ada tubuh yang mati tanpa pernah mengenal kata sedih. Sekuat apapun kau menamai diri, realita selalu saja menghajar tanpa perhitungan walaupun kau telah meminta pengampunan. Semua berambisi pada bahagia yang tak berkesudahan, padahal bahagia akan selalu dibuntuti dengan kesedihan dan akan selalu beriringan.

Rumah itu juga pernah merasakan yang namanya cinta dan jatuh cinta. Namun yang pernah benar-benar mencintai bisa saja benar-benar saling membenci. Dan saat itulah rumah benar-benar rapuh dan berantakan. Biasanya dengan demikian, hanya akan lahir dua  jawaban, tetap menunggu tamu lama atau mencari penggantinya. Sebab segelas teh punya penikmatnya, disuguhkan sang pemilik rumah dengan senyum wajahnya, sayang jika terlanjur dingin, bukan?

Bagaimana pula jika rumah itu kosong selamanya? Ketika ketukan jari tak lagi punya jawaban dari dalamnya. Sepertinya memang ia tak siap menerima tamu dan berbagi waktunya, atau mungkin jawaban kedua,  rumah itu tidak pernah benar-benar ada.

Diri sebagai rumah, sebenar-benarnya tempat belajar atas segala momen perpisahan, Yang selalu menjadi kanvas kehidupan. Tempat menjahit kembali sayap yang patah atau menyulam kembali harapan yang hilang. Dan diri sebagai tempat perayaan jika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan.

Terkait rumahmu, Kau bisa bangun dan bawa ke mana saja, tapi kumohon, jangan ke tempat yang tak bisa aku raih.

Pic: pinterest

 

Merajut Harmoni, Memblok Intoleransi

 

Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Bagimu agamamu, bagiku kau saudaraku.


Sepertinya perihal intoleransi beragama masih akan terus berlangsung lama. Bukan karena pesimis, namun sikap kita acap kali keliru atas apa yang musti dilakukan jika hal demikian selalu terjadi. Gesekan-gesekan yang tidak pernah perlu, kadang kala menyulut kemarahan dan berujung pada tindakan yang membabi buta tanpa pernah disertai pertimbangan. Sebegitu susahkah hidup berdampingan jika kita berbeda keyakinan? 


Misalnya belakangan ini sumber “api”, Perancis tak hentinya menyulut kemarahan umat muslim sedunia. Setelah majalah Charlie Hebdo beberapa tahun silam dikecam karena telah nekat menerbitkan karikatur Nabi Muhammad SAW. kini giliran seorang guru sejarah dan geografi, Samuel Paty, tewas dipenggal oleh seorang remaja berusia 18 tahun, Abdullah Anzorov. Namun pada akhirnya pemuda tersebut juga tewas ditembak petugas kepolisian karena dianggap melawan ketika diamankan. Setelah kejadian ini, polisi bergerak cepat dengan menahan sembilan orang yang dianggap bertanggungjawab, empat diantaranya merupakan kerabat Anzorov dan salah satu dari lima orang yang tersisa adalah orang tua murid yang membeberkan identitas guru. 


Atas semua yang terjadi warga Perancis turun ke jalan dan mengecam tindakan anak muda tersebut dengan dalih kebebasan berekspresi di negaranya sendiri. Turut pula Emmanuel Macron, presidennya menyampaikan perasaan duka paling mendalam atas kepergian sang guru yang disebut penuh dengan dedikasi itu, pun ia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis saat ini di seluruh dunia. Bukannya berusaha mendinginkan situasi, ucapan tersebut layaknya menyiram api dengan bensin, sontak menuai kritik dan dianggap telah mengeneralisasi umat muslim. Maka muncullah tindakan pemboikotan terhadap produk Perancis dan pengecaman yang dilakukan oleh beberapa pemimpin negeri, termasuk Turki dan Indonesia. 


Berbicara tentang pemboikotan, tindakan tersebut mendapat respon yang berbeda-beda dikalangan masyarakat. Ada yang menyebut percuma ada juga yang terang-terangan mendukung karena menurutnya hal itu sudah tepat untuk dilakukan. Terbukti Danone sebuah perusahaan asal prancis harus menerima dengan lapang dada ketika harga sahamnya anjlok seketika. Namun, disamping pemboikotan, di sisi lain kita juga perlu vocal terhadap tindakan pemuda yang langsung menebas sang penyulut keributan. Ingat, menggambar Nabi salah, membunuh juga salah, dua hal yang salah tidak akan membuat salah satunya benar. 


Di sini kita lupa menggarisbawahi bahwa agama Islam yang telah kita yakini adalah agama yang penuh dengan aturan. Segala tindakan dengan hanya main hakim sendiri jelas tak pernah dibenarkan. Membela Nabi dengan menghilangkan nyawa orang lain jelas tak pernah dicontohkan dari Baginda yang katanya kita cintai, membela dengan menghilangkan nyawa orang lain tak pernah halal untuk dilakukan sama sekali.


Kita perlu mengingat kembali, bahwa semasa hidup Rasulullah SAW. cacian dan hinaan acap kali Beliau dapatkan dari para pembencinya.  Seperti kisah seorang Yahudi buta dan tua gemar sekali mencaci Baginda Rasul. Ia selalu menolak atas apa yang disampaikan oleh Rasulullah dengan cara yang paling kasar, mulai dari mengumpat, meludahi, dan menyebarkan ke seantero negeri untuk turut pula membenci Rasulullah. Namun apa yang Rasulullah balaskan, ialah balasan kebaikan. Ia dengan setia memberinya makan, menyuapinya dengan lembut, dan jika ada daging yang terlalu keras, ia suwir dagingnya agar Yahudi buta tak kesulitan memakannya. Sampai ketika pada suatu hari bukan Nabi yang menyuapinya, melainkan Abu Bakar yang kebetulan  lewat. Kemudian Yahudi buta tersebut merasakan perangai yang berbeda dan juga tangan yang tak biasa, lantas bertanya:

“Ini bukan tangan yang biasa menyuapiku. Kemana laki-laki yang biasa menyuapiku?”

“Ia sedang ada urusan, Tuan.”

“Siapa sesungguhnya laki-laki yang setiap hari memberiku makan itu?” 

“Ia Rasulullah, Muhammad SAW.”

Yahudi buta tersebut lantas menangis dan menyesali semua perbuatannya. Pada akhirnya, Ia memeluk Islam ditangan Sayyidina Abu Bakar melalui  petunjuk iman lewat akhlak Sang Rasul. Akhlak yang lebih dari perisai tetapi sudah menjadi pakaian indah sehari-hari. 


Kisah lainnya, saat Rasulullah melewati sebuah gunung lantas dilempari dengan batu oleh pembencinya, gunung tersebut langsung berkata “Ya Rasulullah berdo’alah agar saya bisa membalas atas tindakan mereka terhadapmu dengan melemparkan balik batu-batu yang ada diatasku ini.” Rasulullah kemudian menjawab, “jangan, sebab mereka akan terluka”. Lihat betapa sabarnya dan berlaku adilnya Rasulullah tidak hanya kepada mereka yang menyukainya tapi juga kepada mereka yang membencinya. Kita semua pasti menyadari bahwa mengingat akhlak Rasulullah adalah mengingat sesuatu yang terlampau tinggi dan barangkali terlalu jauh untuk kita gapai, namun bukan berarti kita serta-merta menampik konsep dari keteladanan itu sendiri.


Saya ingat, ketika teman saya yang beragama Kristen Katolik, seorang pemuda yang rajin sekali ke gerejanya juga aktif dengan kegiatan organisasi kerohanian, ditengah-tengah forum rapat pernah bertanya begini, “saya heran dalam agamamu Nu, bahwa surga terlalu sempit untuk dihuni bersama”. Pada saat itu saya tidak mengerti dan bertanya balik tanpa diikuti rasa amarah sedikit pun “Apa maksudmu Gar?” dia melanjutkan “iya, saya dengar surgamu pada akhirnya hanya diisi bagi mereka yang pandai berbahasa Arab saja.” Saya mulai mengerti maksud dari kekeliruannya, dan kemudian saya pun menjawabnya, dengan sependek pemahaman saya, 

“Sebenarnya Gar, masuk surganya seseorang tergantung hanya satu, ialah apa yang disebut dengan Ridho Allah SWT. Jika Tuhan kami menerima, seburuk-buruknya ia dimata orang lain, maka tidak ada halangan untuk itu, sebab Tuhan kamilah yang Maha Berkehendak. Hati seorang manusia, jelas yang bisa menilai hanyalah Pencipta hati itu sendiri.” 

Ia kemudian melanjutkan. 

“Saya dengar juga kalian memanggil kami dengan sebutan orang kafir, sebenarnya kami juga punya sebutan bagi kalian, yakni domba yang tersesat” 

“iya benar, sebutannya kafir, dan sebutan untuk domba itu tidak masalah bagi kami. Kami menghormati apa yang kalian yakini Gar.”

Dan sampai saat ini, Dia sudah menjadi teman saya berdiskusi baik masalah yang sedang terjadi dalam kehidupan kampus, maupun berdiskusi tentang kepercayaan kami masing-masing, tentang perbedaan katolik dan protestan, konsep tritunggal, Bunda Maryam, dan hari natal. Di sini saya mulai paham, bahwa saya butuh lebih banyak percakapan, butuh lebih banyak ruang diskusi tentang apa yang menjadikan kita satu sama lain dikatakan berbeda. Bukan hanya tentang Katolik, juga tentang  protestan, Hindu, Buddha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya. Karena diskusi tidak akan membuat kita terkontaminasi, tetapi akan semakin memperkaya dan memperkuat tentang apa yang kita yakini. 


Harmoni keberagaman nyatanya bisa saja dilahirkan lewat dialog-dialog yang ujungnya akan menumbuhkan sikap memahami dan menghormati. Dengan dialog maka tak bisa dipungkri, kita satu sama lain akan terus belajar mencari tahu tentang agama kita sendiri dan mulai mengerti tentang kepercayaan mereka. Tanpa dialog, siapa yang bisa menjamin bahwa di hari raya Nyepi, suara adzan masjid sejenak dilakukan dengan suara lirih, tanpa dialog siapa yang bisa menjamin tak ada kendaraan yang berlalu lalang saat kaum muslim tumpah ruah shalat ied di jalanan, tanpa dialog siapa yang bisa menjamin sekelompok remaja besedia menjaga pintu gereja saat temannya sedang beribadah natal, tanpa dialog siapa yang bisa menjamin seorang pemuda asrama minta dibangunkan sahur oleh temannya yang beragama Kristen. Dialog yang tanpa disertai sedikit pun sikap sinis, diskriminatif, merasa paling benar sendiri dan paling baik derajatnya, akan menumbuhkan sikap saling menghargai, saling memahami, dan mulai mengerti bahwa kebebasan berekspresi juga tetap harus diikuti dengan sikap tanggungjawab, yang tidak serta merta melecehkan simbol agama tertentu, tidak lagi mudah mencaci maki apa yang sejatinya sudah menjadi kepercayaan masing-masing dengan sepenuh hati.


Kita perlu merenungi apa yang pernah dikatakan oleh Bunda Teresa, seorang biarawati Katolik dan misionaris India, yang telah mendedikasikan hidupnya merawat kaum papa, di suatu hari saat sedang memandikan anak gelandangan di pinggir sungai Gangga, beliau bertanya,

"Mengapa dua orang yang bermusuhan harus berteriak satu sama lain padahal mereka berdekatan?" Ia pun menjawab dengan sendirinya "Sebab hati mereka berjauhan." 


Mungkin, mengapa intoleransi masih membumi sebab kita masih menutup kuping untuk mendengar satu sama lain, masih enggan membuka mulut untuk bersuara tentang perdamaian dalam keberagaman, masih egois memandang mereka adalah sesuatu yang salah dan kitalah yang paling benar, padahal mereka sedekat genteng rumah, sedekat meja tempat kerja, di gerbong kereta, maupun sekolah. Nyatanya, sesederhana bertanya kabar, sedikit demi sedikit kita sedang merajut harmoni beragama. Sebab apa lagi yang bisa dibanggakan dengan yang namanya beragama, jika kita tak kunjung bisa menghargai satu dengan yang lainnya.


Sumber Gambar: cendika.com